Profesi Kependidikan

Agen of Change

Model-model dan Teknik Komunikasi Supervisi Klinis

1. Model Pengembangan

Konsep dasar pada model ini adalah keyakinan bahwa individu tumbuh secara kontinyu ketika tindakannya telah benar, menjalankan secara baik, dan menjalani pertumbuhan secara berpola. Menurut Stoltenberg dan Delworth (1987) ada tiga level subyek yang disupervisi :

1. Tingkat Dasar

Seorang supervisor menemukan guru yang relative tergantung pada supervisornya, kemudian dia melakukan diagnosis untuk kemudian diberikan terapi.

2.  Tingkat Menengah

Sering munculnya tipikal yang resistensi, penghindaran, dan konflik, karena konseo diri yang disupervisi sangat mudah terganggu.

3.Tingkat Lanjut

Fungsi yang dijalakanoleh subjek yang disupervisi bersifat relatin independen, mereka berkonsultasi pada saar memelukan dan merasa bertanggungjawab atas keputusan yang benar atau salah.

 

2. Model terpadu

Model ini menekankan pada tiga area focus pengembangan keterampilan, yaitu proses, konseptualisasi, dan personalisasi. Sesekali supervisor bisa tampil langsung selayaknya guru yang memberi mata kuliah, pengajaran atau informasi kepada kliennya. Sesekali dia bertindak sebagai konselor ketika harus melakukan tindakan konseling atau kepenasehatan khusus atas jalin hubungan selayaknya sejawat, ko-terapis, atau memerankan diri sebagai konsultan.

 

3. Model orientasi spesifik

Model  ini mengadopsi beberapa model terapi, seperti yang pernah dikembangkan oleh Adlerian dengan pendekatan solusi terfokus atau pendekatan perilaku. Diyakini bahwa proses supervise yang terbaik didapatkan dari terapi yang baik pula. Menurut Danim dan Khairil (2010 : 185) model ini diaplikasikan melalui beberapa tahap :

  1. Tahap awal dimana ketika seorang supervisor bertatap muka dengan yang akan disupervisi. Mereka harus menunjukkan keahlian dan kelemahannya. Artinya, keduanya ini dapat saling mempengaruhi.
  2. Pada tahap ini mungkin diantara mereka akan muncul konflik, sikap bertahan, dan menghindar, atau bahkan menyerang. Pada tahap ini supervisor menunjukkan perannya sebagai “pengendali” dalam kerangka supervise.
  3. Pada tahap akhir supervisor lebih banyak diam dan mendorong subjek yang disupervisi untuk tumbuh mandiri dengan caranya sendiri.

Akhmad Sudrajat (2008) mengemukakan bahwa supervisi klinis dilakukan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertemuan pendahuluan, tahap observasi kelas, dan tahap pertemuan balikan. Hal yang paling membedakan supervisi klinis adalah penekanannya pada interaksi langsung guru-supervisor dan pengembangan professional guru.

Tahap pertemuan pendahuluan dimaksudkan sebagai langkah inventarisir masalah yang dihadapi guru; tahap observasi kelas dimaksudkan sebagai tahap untuk melihat secara real pembelajaran yang terjadi di dalam kelas; sedangkan tahap pertemuan balikan merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang kedua tadi.

  1.  Tahap pertemuan pendahuluan (tahap pertama); Pada tahap ini yang terpenting untuk diperhatikan, terutama oleh supervisor, adalah harus dapat menciptakan suasana yang akrab, terbuka dan penuh persahabatan. Jadi yang terjalin adalah hubungan kolegial dalam suasana kerjasama yang harmonis. Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana keterampilan yang akan diobservasi dan dicatat. Menurut Soetjipto dan Raflis Kosasi dalam Jayadi (2002:77), secara teknis diperlukan lima langkah dalam pelaksanaan pertemuan pendahuluan yang meliputi:
    1. Menciptakan suasana yang akrab antara supervisor dengan guru.
    2. Melakukan kajian ulang rencana pembelajaran (tujuan, bahan, kegiatan, dan evaluasinya) yang telah dibuat oleh guru.
    3. Mengidentifikasi komponen keterampilan (beserta indikatornya) yang akan diobservasi.
    4. Memilih atau mengembangkan instrument observasi yang akan digunakan.
    5. Mendiskusikan bersama untuk mendapatkan kesepakatan tentang instrument observasi yang dipilih atau dikembangkan
  2. Tahap observasi kelas (tahap kedua); pada tahap ini guru mengajar atau melakukan latihan mengenai tingkah laku mengajar yang telah dipilih dan disepakati bersama pada tahap pertemuan pendahuluan. Ketika guru praktik/berlatih, supervisor mengadakan observasi dengan menggunakan alat perekam yang juga telah disepakati bersama. Aspek-aspek yang diamati adalah segala hal yang telah disepakati yang tercantum dalam instrument yang juga telah disetujui bersama dalam pertemuan pendahuluan.

Fungsi utama observasi kelas adalah untuk menangkap apa yang terjadi selama proses pengajaran berlangsung secara lengkap agar supervisor dan guru dapat dengan tepat mengingat kembali proses pengajaran dengan tujuan agar analisis dapat dibuat secara objektif. Ide pokok dalam observasi ini adalah mencakup apa yang terjadi sehingga dengan catatan yang dibuat dengan cermat dan lengkap serta kemudian tersimpan dengan baik, dapat bermanfaat untuk kepentingan analisis dan komentar (Jayadi, 2002:77).

3.      Tahap pertemuan balikan (tahap ketiga); Tahap ini merupakan diskusi umpan balik antara supervisor dan guru berkaitan dengan kegaiatan yang baru saja diselesaikan yaitu, guru baru saja selesai melakukan latihan suatu keterampilan, dan supervisor baru saja selesai mengamati guru melakukan latihan. Yang menjadi acuan dalam pertemuan balikan ini adalah kesepakatan yang dibuat dalam pertemuan pendahuluan, dan pada akhir diskusi balikan ini guru diharapkan dapat mengetahui dan menyadari seberapa jauh tujuan yang telah disetujui bersama dapat tercapai (Jayadi, 2002:78-79).

Soetjipto dan Raflis Kosasi dalam Jayadi (2002:79-80) mengemukakan langkah-langkah pembicaraan hasil supervisi klinis sebagai berikut :

  1. Memberi penguatan dan menanyakan perasaan guru mengenai apa yang dialaminya dalam kegiatan mengajar secara umum. Hal ini untuk menciptakan suasana santai agar guru tidak merasa diadili
  2. Mereview tujuan pelajaran
  3. Mereviu target keterampilan serta perhatian utama guru dalam mengajar/latihan mengajar
  4. Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pengajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya
  5. Menunjukkan data hasil rekaman dan memberi kesempatan kepada guru menafsirkan data tersebut.
  6. Menganalisis dan menginterpretasikan data hasil rekaman secara bersama-sama
  7. Menanyakan kembali perasaan guru setelah mendiskusikan hasil analisis dan interpretasi rekaman data tersebut
  8. Menyimpulkan hasil dengan melihat atau membandingkan antara apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dengan apa yang sebenarnya telah terjadi atau tercapai
  9. Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.

 Teknik Komunikasi dalam Supervisi Klinis

Dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya, supervisor pembelajaran berkomunikasi dengan guru yang disupervisi. Ahli komunikasi umumnya sependapat bahwa komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian informasi dari pengirim kepada penerima pesan, dimana pesan itu disampaikan melalui media atau tanda-tanda dengan menggunakan bahasa tertentu yang saling dimengerti untuk mencapai suatu tujuan. Komunikasi adalah segala penyampaian segala perasaan, sikap, kebijakan dan kehendak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan dua definisi diatas, maka dalam proses komunikasi terlibat pelbagai unsur seperti, penyampaian informasi (sender atau informator), penerima informasi (receiver), isi informasi (message), media atau tanda-tanda yang digunakan (medium or symbols), dan bahasa yang saling dimengerti (mutual language system). Unsur lain dari komunikasi adalah gangguan (noise), dan respon (response). Dalam konteks komunikasi untuk supervisi klinis, kedudukan supervisor dan yang disupervisi sebagai pengirim dan penerima pesan itu saling berganti. Karena memang dalam supervisi pembelajaran klinis, dialog terbuka menjadi sangat penting.

Unsur-unsur tersebut tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Didalam proses komunikasi antara supervisor dengan guru selalu melibatkan penyampai informasi (supervisor), penerima informasi dan sebaliknya, pesan yang diinformasikan (pesan-pesan perbaikan, ajakan dan sebagainya) media atau tanda-tanda yang digunakan, bahasa yang saling dimengerti, kemungkinan gangguan dan pada saatnya respon adalah keharusan. Jika unsur lain ada, akan tetapi penerima tidak memberikan respon, maka proses komunikasi antara supervisor dengan menjadi tidak berarti.

Ada tiga tinjauan untuk memahami konsep dasar komunikasi antara supervisor dengan guru yang disupervisi. Ketiga tinjauan tersebut dirumuskan berikut ini. Pertama, bahwa komunikasi itu dipandang sebagai proses penyampaian informasi. Keberhasilan proses komunikasi antara supervisor dengan guru terletak pada penguasaan materi atau fakta dan pengaturan cara-cara penyampaiannya. Guru sebagai penerima pesan dan supervisor sebagai pengirim atau sebaliknya tidak merupakan komponen yang menentukan keberhasilan komunikasi.

Kedua, komunikasi itu suatu proses penyampaian gagasan-gagasan dari supervisor kepada guru. Didalam konsep ini terkandung makna bahwa guru sebagai penerima pesan dianggap sebagai bagian dari proses komunikasi, namun penekanan terletak kepada supervisor atau message formulator.

Kelemahan komunikasi yang bersifat “speaker-centered phylosophy of communication”mini terletak pada beberapa hal. Pertama, penerima pesan dipandang sebagai objek yang pasif dan bukan sebagai kekuatan aktif dalam proses komunikai. Kedua, konsep ini tidak mengemukakan terjadinya proses pemahaman atau meaning yang tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Ketiga, terlalu parochial atau kurang mengungkapkan masalah manusia yang suatu waktu berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

Ketiga, komunikasi dipandang sebagai suatu proses menciptakan arti, ide, gagasan atau konsep. Pesan supervisor dapat diciptakan melalui orang, televisi, radio, memo, papan pengumuman, suran dan sebagainya. Konsep ini tidak sepenuhnya tepat, mengingat bahwa komunikasi itu bukan proses penyampaian arti atau gagasan dari seseorang kepada orang lain.

Apa yang disampaikan oleh penyampai pesan itu hanyalah simbol-simbol atau lambang-lambang. Arti dari suatu pesan tidak dapat dipindah-pindahkan atau disampaikan secara apa adanya. Pengertian atau pemaknaan atas pesan itu terjadi pada individu yang terlibat dalam proses komunikasi itu. pengertian atau pemahaamn atas pesan yang disampaikan oleh supervisor ditentukan oleh kemampuan guru sebagai penerima pesan itu. Dengan demikian, keberartian atas pesan  atau sejumlah pesan itu ditentukan oleh kemampuan guru sebagai penerima pesan itu sendiri. Tugas supervisor hanyalah menyampaikan ide atau informasi, beban pemahaman terhadap apa yang disampaikan ada pada guru yang disupervisi.

Pada tingkat praksis, perbuatan mencela, mengkritik, memberi saran atau usul kepada atasan yang lebih tinggi sangat jarang, sebagai hambatan psikologis itu. Dengan fenomena itu, mereka segan mengemukakan ketaksenangan terhadap pekerjaan atau sikap negatifnya terhadap tugas-tugas. Mereka bekerja dan berkomunikasi sangat hati-hati, sebab takut tergeser, tidak dipercaya, dan tidak membangun rasa saling memiliki. Hal ini terjadi sebagai akibat beberapa hal. Pertama, tidak ada keterbukaan antara kedua belah pihak, yaitu antara supervisor dengan guru binaanya. Kedua, kurang dukungan fakta-fakta. Ketiga, pola manajemen kepengawasan yang kaku, tidak memungkinkan komunikasi terjadi secara efektif.

Supervisor yang bijak akan membawa guru binaanya pada kondisi yang mereka inginkan, yaitu menciptakan iklim yang sehat dan produktivitas pembelajaran yang tinggi. Ketidakmampuan supervisor menimbulkan kepercayaan, kepatuhan, dan kesetiaan melalui komunikasi yang baik dengan guru akan membawa dampak gagalnya program supervisi. Komunikasi antar manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan menduduki posisi sentral, lebih dari hanya sekedar berporos pada upaya mencapai tujuan organisasi. Munculnya permasalahan itu dapat saja disebabkan oleh perbedaan status secara posisional atau karena tidak ada jaringan komunikasi yang komunikatif.

Berhasil atau tidaknya komunikasi antara supervisor dan pengawas turut ditentukan oleh keinginan mendengar antarsesama. Mendengarkan yang dimaksudkan  disini adalah kemampuan menangkap pesan, bukan kepura-puraan. Pembicara yang tidak mau tau guru atau lawan bicara, tidak akan menjadi supervisor pembelajaran yang baik. Untuk itu, manusia organisasional harus memiliki sifat-sifat inovatif yang oleh Rogers dan Shoemaker (1981) digambarkan dengan ciri-ciri sperti berikut ini.

Pertama, memiliki empati yang lebih besar. Empati adalah kemampuan seseorang memproyeksikan diri kedalam peranan orang lain. Hal ini biasanya harus ditunjang oleh kemampuan berpikir abstrak, berdaya khayal dan mengambil peran orang lain agar dapat berkomunikasi lebih efektif dengan mereka. Kedua, kurang dogmatis. Dogmatis adalah suatu variabel yang menunjukkan sistem kepercayaan yang relatif tertutup yang pengaruhnya sangat kuat terhadap kepribadian seseorang. Ketiga, mempunyai kemampuan abstraksi yang lebih besar, karena ide baru itu biasanya pertama kali diperkenalkan dalam bentuk rangsangan yang abstrak. Keempat, mempunyai rasionalitas yang besar, karena itu merupakan cara yang paling efektif untuk menciptakan tujuan tertentu. Kelima, cenderung lebih tinggi intelegensinya. Keenam, memiliki sikap yang lebih berkenan terhadap perubahan.

Ketujuh, memiliki sikap yang mau mengambil resiko. Kedelapan, memiliki sikap yang berkenan terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kesembilan, kurang percaya kepada nasib, artinya tidak menyerah begitu saja kepada nasib, statisme. Kesepuluh, memiliki motivasi tinggi meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Kesebelas, memiliki aspirasi tinggi terhadap pendidikan, pekerjaan dan sebagainya lebih tinggi

  • Komunikasi Klinis

Ada dua sikap supervisor pembelajaran yang mempengaruhi proses berkomunikasi, yaitu sikap yang menghambat dan sikap yang membantu. Dua sikap pengirim pesan yang menghambat dan membantu proses komunikasi menurut Jack R. Gibb (1970) dalam “Journal of Communication” seperti berikut ini.

 

Evaluasi – Deskripsi

Supervisor yang cenderung memberi penilaian terhadap guru binaannya akan menghadapi reaksi yang difensif dari penerima pesan itu. Sebaliknya supervisor yang memberi penjelasan secara deskriptif akan memperoleh respon positif dari guru binaannya. Karena itu, penyampaian pesan-pesan yang bersifat deskriptif akan lebih efektif dibandingkan dengan yang bersifat evaluasi.

 

Penguasaan – Permasalahan

Supervisor yang bersikap sebagai penguasa atau pimpinan yang otoriter, akan membuat guru binaanya menjadi imferior dan defensif. Supervisor yang berbicara bersifat ingin memecahkan pelbagai masalah akan disambut secara positif dan konstruktif oleh guru yang disupervisi. Manusia sesuai dengan hakekatnya, biasanya tidak suka terpojok atau tidak mau berperan selalu sebagai bawahan. Mereka lebih menerima atasan yang senantiasa memecahkan pelbagai problema yang mereka hadapi.

 

Manipulasi – Spontanitas

Supervisor selaku penyampai pesan yang bernada manipulatif atau bersikap “ ada udang dibalik batu” akan disambut dengan sikap negatif oleh guru dan tidak mungkin menciptakan suasana komunikatif antarsesama mereka. Jika komunikasi dilakukan oleh supervisor secara jujur, spontanitas dan sungguh-sungguh, akan disambut dengan sikap positif oleh guru. Proses komunikasi antara supervisor dengan guru binaannya akan berlangsung secara komunikatif.

Tidak memperhatikan – Memperhatikan

Sikap dingin seseorang supervisor atau penyampai informasi akan ditanggapi oleh guru sebagai penerima informasi secara tidak penuh dan dengan demikian komunikasi tidak akan berjalan secara efektif. Jika supervisor atau penyampai informasi penuh keseriusan, akan ditanggapi oleh guru sebagai penerima informasi secara penuh perhatian. Dengan demikian informasi yang disampaikan oleh supervisor kepada guru binaannya akan dapat diterima dengan baik.

 

Bersikap super – Menyamakan diri

Penyampai pesan atau supervisor yang berlagak angkuh atau supervisor tidak akan dapat menyampaikan informasi secara baik kepada guru sebagai penerima pesan, karena mereka akan mempunyai kesan bahwa supervisor itu hanya menampakkan egonya. Supervisor yang menghargai guru atau memposisikannya sama dengan dirinya, akan mampu menyampaikan informasi secara efektif.

 

Kaku – Luwes

Supervisor yang hanya berusaha menawarkan keputusan-keputusan sendiri dengan dalih mau dilihat bersikap demokratis akan membuat guru atau penerima informasi jadi negatif. Jika supervisor bersikap luwes, akan diterima secara luwes pula oleh guru. Dengan demikian komunikasi antarsesama mereka akan berjalan lebih lancar.

Ketidakmampuan supervisor pembelajaran akan menyebabakan dia maupun guru tidak memperoleh kepuasan akibat tidak adanya perasaan saling mempercayai satu sama lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi antara supervisor pembelajaran dan guru adalah

  1. Faktor psikologis, yaitu persepsi dan penafsiran guru yang dibina terhadap stimulus yang ada dari supervisor ditentukan oleh tingkatan emosi dan sifat pibadi seseorang supervisornya
  2. Faktor biofisikal, yaitu penglihatan, keseimbangan biokimiawi, dan lain-lain yang ada pada diri guru binaan supervisor
  3. Faktor psikofisikal, yaitu status fisik dan mental yang saling berkaitan, seperti penyalahgunaan obat dan kemampuan dalam mengekspresikan diri dan perubahan tingkat kewaspadaan seorang guru yang dibina.
  4. Faktor sosiokultural, yaitu hal-hal yang bersifat kultural, ras, klas sosial, nilai-nilai yang dianut serta kepercayaan yang dianut oleh guru binaan supervisor.

Komunikasi yang efektif terutama terletak pada kemampuan supervisor pembelajaran untuk “membaca” (mendengar, mengerti, dan memahami) guru secara individual, mampu menilai kondisi guru, dan mampu menyampaikan pesan kepadanya sesuai dengan lokasi, waktu dan maksud dari interaksi yang sedang berlangsung. Kemampuan melakukan komunikasi secara efektif bukan semata-mata merupakan ciri khas atau pembawaan seseorang supervisor pembelajaran, sebagian besar dari kemempuan tersebut merupakan perilaku yang dapat dipelajari

Ketrampilan komunikasi dapat dipelajari dengan lebih efisien bila seseorang telah mengetahui pengetahuan dasar komunikasi yang berkaitan sebelum melakukan praktik ketrampilan. Saat ini, seharusnya supervisor pembelajaran telah menyadari bahwa ketrampilan komunikasi pribadi merupakan unsur dasar dalam memeperbaikai kualitas wawancara klinis dalam supervisi pembelajaran. Kualitas komunikasi klinis ini diyakini berhubungan secara positif dengan efektiviitas menumbuhkembangkan kemampuan profesional guru.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa komunikasi yang efektif akan membawa supervisor pembelajaran pada pembuatan diagnosa yang lebih tepat, investigasi dan terapi yang tepat dan meningkatkan derajat kepuasan serta pemenuhan kebutuhan dari guru. Dengan demikian komunikasi yang efektif diharapkan akan dapat mengurangi penyimpangan dalam komunikasi serta memberi keputusan bagi guru sebagai penerima jasa layanan supervisi pembelajaran. Komunikasi ini dapat dilakukan baik secara verbal maupun nonverbal.

 

Komunikasi Verbal

Komunikais verbal adalah penggunaan kata-kata dalam menyampaikan pikiran, perasaan, dan informasi. Kesalahan utama dalam penyampaian kata-kata adalah digunakannya istilah pendidikan dan pembelajaran yang hanya diketahui oleh supervisor dan tidak dimengerti sama sekali oleh guru binaannya. Penggunaan istilah oleh supervisor hanya boleh jika dia yakin bahwa guru benar-benar memahaminya.

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat pemahaman guru adalah volume informasi yang disampaikan oleh supervisornya. Supervisor harus memberi kesempatan pada guru untuk mengingat pesan-pesan yang telah disampaikan.pada umumnya guru hanya dapat mengingat beberapa hal utama pada setiap kali pertemuan. Adalah hal yang sangat menguntungkan bila supervisor dapat menyediakan informasi tertulis mengenai cara menegakkan “diagnose” dan rekomendasi perbaikan bagi guru yang dibina.

 

Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal adalah isyarat yang  berlangsung secara sadar atau tidak sadar berupa tingkah laku yang menyatakan pikiran, perasaan, atau petunjuk. Komunikasi nonverbal dapat berguna dalam:

  • Menunjukkan emosi
  • Menunjukkan sikap
  • Membentuk dan mempertahankan hubungan sosial dan
  • Mendukung komunikasi verbal

Komunikasi verbal dan nonverbal dapat membantu supervisor pembelajaran untuk menunjukkan perhatian dan kepedulain terhadap guru. Dengan menunjukkan perhatian, melakukan kontak mata, mendengarkan dan bertanya secara baik dan menunjukkan pengertian dan empati akan membuat guru merasa diperhatikan dan dianggap penting. Sikap nonverbal yang menunjukkan adanya perhatian dan kepedulian terhadap guru antara lain adalah nada bicara, sikap, perhatian, senyuman, mendengarkan dengan seksama, posisi duduk antara supervisor pembelajran dan guru pada ketinggian yang sama.

 

Keputusan Berbasis Konsultasi

  1. Hak guru untuk memperoleh informasi yang penting dari supervisor dan bernilai baik baginya
  2. Hak guru dalam membuat keputusan yang terbaik menurut pertimbangan nalar dan pengalamannya
  3. Keputusan berbasis informasi (informed decision) merupakan pernyataan mendasar dari hak guru untuk mewujudkan eksistensi diri
  4. Lima unsur dasar penting untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis konsultasi:
  • Terjadinya pilihan layanan supervisi
  • Proses pengambilan keputusan secara sukarela
  • Guru memperoleh informasi yang benar
  • Terjaminnya interaksi yang baik antara supervisor pembelajaran dengan guru
  • Dukungan dalam membuat keputusan supervisis

 

Pendekatan GATHER

Pendekatan GATHER  sudah lama digunakan dalam konsultasi pelayanan keluarga berencana (KB) untuk membentuk klien memilih metode kontrasepsi yang paling baik dan sesuai. Pendekatan ini agaknya cocok dalam rangka pelaksanaan supervisi pembelajaran. GATHER merupakan singkatan dari:

  1. Greet (salam) – berikan salam dalam sikap bersahabat pada guru segera ketika berjumpa. Buatlah guru merasa nyaman dengan menanyakan hal-hal yang sederhana.
  2. Ask (tanya) – apa dan bagaimana seorang supervisor klinis dapat membantu guru. Bertanyalah mengenai masalah guru, gunakan nada suara yang mengisyaratkan keperdulian, perhatian, dan keakraban terhadap mereka.
  3. Tell (tanggapan) – berikan tanggapan dan respon terhadap kebutuhan guru
  4. Help (bantu) – bantulah guru dalam membuat keputusannya sendiri
  5. Explain (jelaskan) – apa yang benar-benar perlu dijelaskan
  6. Return (kembali) – ingatkan guru dengan memberikan pesan-pesan tertentu yang penting.

 

Pendekatan REDI

Pendekatan ini dikenal dengan 4 tahapan REDI yaitu:

Tahap 1: Rapport building (membina hubungan)

  • Menyambut kedatangan guru, misalnya ketika dia berinisiatif menemui supervisornya
  • Membuat pembicaraan awal yang menyenangkan
  • Memeperkenalkan topik bahasan
  • Menjanjikan kerahasiaan bersama

Tahap 2: Exploration (eksplorasi)

  • Mendapatkan informasi mengenai kebutuhan guru, resiko kehidupan guru sebagai penyandang profesi ketika berinteraksi dengan anak, kehidupan sosial, dan lingkungan
  • Menggali tingkat pemahaman guru dan berikan informasi yang diperlukan
  • Bantu guru dalam memahami kondisi kerja atau resiko kerja yang akan muncul

Tahap 3: Decision making (pengambilan keputusan)

  • Identifikasi keputusan yang diperlukan guru
  • Identifikasi pilihan-pilihan guru dalam mengambil keputusan
  • Berikan penjabaran dari keuntungan, kerugian, dan konsekuensi dari setiap pilihan
  • Bantu guru untuk mengambil keputusan yang realistik

Tahap 4: Implementing of decision (pelaksanaan keputusan)

  • Buatlah rencana nyata dan spesifik untuk menjalankan keputusan
  • Idenifikasi ketrampilan yang diperlukan guru dalam menjalankan keputusannya
  • Bantulah guru dalam memperoleh ketrampilan praktis yang diperlukan, jika dirasa perlu
  • Buatlah rencana tindak-lanjut.


Tinggalkan komentar »

Profesi Supervisor Klinis untuk Perbaikan Pembelajaran

Supervisi Klinis

Seorang supervisor pembelajaran yang professional mampu melakukan pendekatan klinis dalam pelaksanaan tugasnya. Kajian dan diskusi mengenai supervisi klinis di bidang pendidikan makin intensif akhir – akhir ini. Hal ini membersitkan kuatnya pengakuan atas status supervisor klinis sebagai profesi atau setidaknya sub keahlian dari supervisor pembelajaran. Khusus Indonesia, keharusan pengawas memenuhi angka kredit untuk naik jabatan fungsional tertentu membuktikan pengakuan Negara atas profesi ini, meski sangat mungkin substantinya masih layak diperdebatkan. Supervisi klinis untuk pembelajaran memang sangat kompleks. Karenanya, masih perlu dicari mengenai teknik supervise yang paling cocok dalam rangka meningkatkan kerja guru. Upaya untuk menemukan model atau teknik supervisi pembelajaran terbaik akan  terus dilakukan, meski sangat mungkin tidak akan benar – benar berhasil menemukannya.

Tingkat kemandirian guru sangat tinggi seringkali menyebabkan mereka tidak merasa perlu lagi kehadiran supervisor. Sementara pengawas, yang karena tugas pokok dan fungsinya, merasa memiliki otonomi untuk mensupervisi guru seperti apapun. Pengawas memandang aktivitas mensupervisi guru adalah haknya dan keputusan bertindak ada pada sisinya sementara guru tertentu sangat mungkin merasa tidak memerlukan lagi, karena dia sudah memposisikan diri sebagai tenaga professional sungguhan. Lalu, muncullah apa yang disebut sebagai konflik otonomi sebagai kewenangan dengan otonomi sebagai persepsi atas kemampuan. Meski sabgat mungkin sesekali di antara mereka muncul dependensi kondisional, ketika ada masalah khusus yang memerlukan pemecahan.

Pelaksanaan supervisi klinis untuk menigkatkan kemampuan professional guru dilakukan melalui tahapan – tahapan :

a)      Praobservasi, yang berisi pembicaraan dan kesepakatan antara supervisor dengan guru mengenai apa permasalahan yang dihadapi oleh guru atau apa yang akan diamati dan diperbaiki dari pengajaran yang dilakukan.

b)      Observasi, yaitu supervisor mengamati guru dalam mengajar sesuai dengan focus yang telah disepakati.

c)      Analisis permasalahan yang dilakukan secara bersama oleh supervisor dengan guru terhadap hasil pengamatan.

d)     Perumusan langkah – langkah perbaikan, dan pembuatan rencana untuk perbaikan.

Perwujudan supervise klinis memang tidak terfokus pada pengembangan professional guru, melainkan berkaitan juga dengan kesejahteraan, proteksi dan profesi, dan peningkatan hasil belajar siswa. Karenanya, supervise klinis tidak hanya sekedar berkaitan dengan hubungan antara supervisor dengan guru yang disupervisi, melainkan juga harus dipandang sebagai bagian dari proses pendidikan secara keseluruhan.

1.   Definisi Supervisi klinis.

Supervise klinis adalah bantuan professional kesejawatan oleh supervisor kepada guru yang mengalami masalah dalam pembelajaran agar yang bersangkutan dapat mengatasi masalahnya dengan menempuh langkah yang sistematis, dimulai dari tahap perencanaan, pengamatan guru mangajar, analisis perilaku, dan tindak lanjut. Supervisi klinis adalah proses bantuan atau  terapi professional yang berfokus pada upaya perbaikan pembelajaran  melalui proses siklikal yang sistematis dimulai dari perencanaan, pengamatan dan analisis yang intensif terhadap penampilan guru dengan tujuan untuk memperbaiki proses pembelajaran.

Istilah klinis (clinical) mengandung maksud bahwa dalam pelaksanaan supervisi hubungan berlangsung secara tatap muka (face to face) antara guru dengan supervisor dan difokuskan pada perilaku actual guru di depan kelas. Kata klinis juga mengandung arti berkenaan dengan penyakit, seorang supervisor dalam melaksanakan layanan supervisi klinis, ibarat seorang dokter yang sedang mengobati pasiennya. Didahului dengan datangnya pasien, kemudian dokter menanyakan keluhan apa saja yang dirasakan untuk mengetahui sebab-sebab dan jenis penyakit yang diderita, kemudian setelah mendapatkan kepastian dari proses diagnosis baru dokter memberikan obatnya. Hal yang terpenting dari analogi dengan pengobatan penyakit adalah bahwa supervisi klinis menghendaki inisiatif datang dari guru, untuk penyembuhan suatu aspek tertentu yang jelas, dan memang sangat dibutuhkan oleh guru itu sendiri.

2.  Ciri – ciri Supervisi Klinis

Perilaku supervisi memandang masalah klien sebagai masalah belajar. Karenanya, hal itu memerlukan dua keahlian. Pertama, identifikasi masalah. Kedua, menyeleksi teknik belajar yang tepat (Leddick & Bernard, 1980). Guru yang disupervisi dapat berpartisipasi sebagai ko-terapis untuk melakukan penguatan. Supervisi klinis termasuk bagian dari supervise pembelajaran. Perbedaannya dengan supervisi yang lain adalah prosedur pelaksanaannya ditekankan kepada mencari sebab – sebab atau kelemahan yang dilakukan oleh guru selama proses pembelajaran dan kemudian langsung di usahkan perbaikan atas kekurangan dan kelemahan tersebut.

Ciri – ciri pelaksanaan supervise klinis yang baik adalah sebagai berikut:

  1. Bimbingan supervisor pengajaran kepada guru bersifat hubungan pembantuan, bukan hubungan perintah atau intruksi.
  2. Kesepakatan antara guru dan supervisor tentang apa yang dikaji dan jenis keterampilan yang paling penting merupakan hasil diskusi bersama.
  3. Instrumen supervise klinis dikembangkan dan disepakati bersama antara guru dan supervisor.
  4. Guru melakukan persiapan dengan mengidentifikasi aspek kelemahan  – kelemahan yang dipandang perlu diperbaiki.
  5. Pelaksanaan supervise klinis selayaknya teknik observasi kelas.
  6. Umpan balik atau balikan diberikan dengan segera dan bersifat obyektif.
  7. Guru hendaknya dapat menganalisis penampilannya.
  8. Supervisor lebih banyak bertanya dan mendengarkan daripada memerintah atau mengarahkan guru.
  9. Supervisor dan guru berada atau menciptakan kondisi dalam keadaan atau suasana akrab dan terbuka.
  10. Supervisor dapat digunakan untuk membentuk atau peningkatan dan perbaikan keterampilan pembelajaran.

Dari ciri-ciri tersebut, dapat diketahui dan dibedakan antara supervisi pengajaran dan supervisi klinis. Supervisi pengajaran lebih menekankan pada pengawasan dari supervisor terhadap guru-guru tentang pengelolaan pembelajaran yang dikelolanya. Sedangkan supervisi klinis lebih menekankan pada inisiatif guru untuk menyampaikan problem-problem pengajaran yang dihadapinya untuk disampaikan kepada supervisor, dan selanjutnya dicarikan solusi terbaiknya. Persamaannya adalah bahwa baik dalam supervisi pengajaran maupun dalam supervisi klinis dituntut adanya kooperasi atau kerja sama yang harmonis antara supervisor dengan guru itu sendiri, guru tidak boleh masa bodoh.

3.  Karakter Supervisi Klinis

  1. Perbaikan proses pembelajaran mengharuskan guru mempelajari kemampuan intelektual dan keterampilan teknis. Supervisor mendorong guru berperilaku berdasarkan kemampuan intelektual dan keterampilan teknis yang dimilikinya.
  2. Fungsi utama supervisor adalah menginformasikan beberapa kemampuan dan keterampilan, seperti :
  • Kemampuan dan keterampilan menganalisis proses pembelajaran berdasarkan hasil pengamatan.
  • Kemampuan dan keterampilan mengembangkan kurikulum, terutama bahan pembelajaran.
  • Kemampuan dan keterampilan dalam proses pembelajaran
  • Kemampuan dan keterampilan guru melakukan evaluasi dan tindak lanjut.
  1. Berfokus pada :
  2. Perbaikan mutu proses dan hasil pembelajaran
  3. Perbaikan kinerja guru pada hal – hal spesifik yang masih memerlukan penyempurnaan
  4. Upaya perbaikan didasari atas kesepakatan bersama dan pengalaman masa lampau.
  5. Hubungan pembantuan antara supervisor dengan yang di supervisi mengedepankan dimensi kolegalitas.
  6. Tindakan supervisor menemukan kelemahan atau kekurangan guru semata – mata diperuntukkan bagi upaya perbaikan, bukan untuk keperluan penilaian atas prestasi individual guru.

4. Urgensi Supervisi Klinis

  1. Menghindarkan guru dari jebakan oenurunan motivasi dan kinerja dalam melaksanakan proses pembelajaran.
  2. Menghindarkan guru dari upaya menutupi kelemahannya sendiri melalui cara – cara dialog terbuka dengan supervisornya.
  3. Menghindari ketiadaan respon dari supervisor atas praktik professional yang telah memenuhi standar kompetensi dank ode etik atau yang masih di bawah standar.
  4. Mendorong guru untuk selalu adaptif terhadap kemajuan Iptek dalam proses pembelajaran.
  5. Menjaga konsistensi guru agar tidak kehilangan identitas diri sebagai penyangang profesi yang terhormat dan bermanfaat bagi kemajuan generasi.
  6. Menjaga konsistensi perilaku guru, agar tidak masuk dalam jebakan kejenuhan professional, bahkan meningkatkannya.
  7. Mendorong guru untuk secara cermat dalam bekerja dan berinteraki dengan sejawat dan siswa agar terhindar dari pelanggaran kode etik profesi guru.
  8. Menghindarkan guru dari praktik – praktik melakukan atau mengulangi kekeliruan secara masif dalam melaksanakan kegiatan pembelajaran.
  9. Menghindarkan guru dari erosi pengetahuan yang sudah didapat dari pendidikan prajabatan selama studi di perguruaan tinggi.
  10. Menghindarkan siswa dari praktik – praktik yang merugikan, karena tidak memperoleh layanan yang memuaskan, baik secara akademik maupun non akademik.
  11. Menjauhkan guru dari menurunnya apresiasi dan kepercayaan siswa, orangtua siswa, masyarakat atas profesi yang mereka sandang.

 

5. Tujuan Supervisi Klinis

 

  1. Menjaga konsistensi motivasi dan kinerja guru dalam melaksanakan proses pembelajaran.
  2. Mendorong keterbukaan guru kepada supervisor mengenai kelemahan – kelemahannya sendiri dalam melaksanakan pembelajaran.
  3. Menciptakan kondisi agar guru teris menjaga dan meningkatkan mutu praktik professional sesuai dengan standar kompetensi dank ode etik yang telah ditetapkan dan disepakati.
  4. Menciptakan kesadaran guru tentang tanggung jawabnya terhadap pelaksanaan pembelajaran yang berkualitas, baik proses maupun hasilnya.
  5. Menciptakan  guru untuk senantiasa memperbaiki dan meningkatkan kualitas proses pembelajaran dengan jalan meningkatkan penguasaan ilmu pengetahuan, teknologi, wawasan umum, dan keterampilan khusus yang diperlukan dalam proses pembelajaran.
  6. Membantu guru untuk mengidentifikasi dan menganalisis masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran, baik di dalam maupun diluar kelas.
  7. Membantu guru untuk dapat menemukan cara pemecahan masalah yang ditemukan dalam proses pembelajaran, sehingga benar – benar memberikan nilai tambah bagi siswa dan masyarakat.
  8. Membantu guru untuk mengembangkan sikap positif terhadap profesi dalam mengembangkan diri secara berkelanjutan, baik secara individual maupun kelompok, dengan cara yang dilembagakan atau atas insiatif sendiri.

 

6. Prinsip – prinsip Supervisi Klinis

 

  1. Hubungan supervisor dengan guru didasari semangat kolegialitas yang taat asas.
  2. Setiap kelemahan atau kesalahan guru semata – mata digunakan untuk tindakan perbaikan, tanpa secdara eksplisit melabeli guru belum professional.
  3. Menumbuhkembangkan posisi guru, mulai dari tidak professional sampai professional.
  4. Hubungan antar supervisor dengan guru dulakukan secara objektif, transparan, dan akuntabel.
  5. Diskusi atau pengkajian atas umpan balik yang segera atau yang diketahui kemudian bersifat demokratis dan didasarkan pada data hasil pengamatan.
  6. Hubungan antar supervisor dengan guru bersifat interaktif, terbuka, obyektif, dan tidak bersifat menyalahkan.
  7. Pelaksanaan keputusan atau tindakan perbaikan ditetapkan atas kesepakatan atau kerelaan bersama.
  8. Supervisor tidak mempublikasikan kelemahan – kelemahan guru dan guru tidak menjadikan kelemahan supervisor sebagai dalih untuk tidak menerima bimbingsn professional darinya.
  9. Focus utama dan pelengkap kegiatan supervise terpusat pada kebutuhan dan aspirasi guru dan tetap berada di ruang lingkup tugas – tugas pembelajaran.
  10. Prosedur pelaksanaan berupa siklus, mulai dari tahap perencanaan, pelaksanaan atau pengamatan, dan siklus balikan.

 

Tinggalkan komentar »

Ranah Pengembangan Keprofesian Guru

PENYEDIAAN GURU

Di Indonesia seperti juga banyak di  banyak Negara, guru mempunyai kedudukan sebagai tenaga profesional pada jenjang pendidikan dasar, pendidikan menengah, dan pendidikan anak usia dini pada jalur pendidikan formal. mereka diangkat sesuai dengan peraturan regulasi yang berlaku dilingkungan pemerintahan, penyelenggara, atau satuan pendidikan. Mereka yang diangkat sebagai guru merupakan lulusan lembaga penyedia calon guru.

Berkaitan dengan guru, Undang-undang No. 14 Tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan Peraturan Pemerintah No.74 Tahun 2008 tenteang guru telah menggariskan bahwa hasil itu menjadi kewenangan lembaga pendidikan tenaga kependidikan, yang dalam buku ini disebut sebagai penyediaan guru berbasis perguruan tinggi. Menurut dua produk hukum ini, lembaga pendidikan tenaga kependidikan dimaksud adalah perguruan tinggi yang diberi tugas oleh pemerintah untuk menyelengarakan program pengadaan guru pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan/atau pendidikan menengh, serta untuk menyelenggarakan dan mengembangkan ilmu kependidikan dan non-kependidikan.

Guru dimaksud harus memiliki kualifikasi akademik sekurang-kurangnya S1/D-IV dan bersertifikat pendidik. Jika seorang guru telah memiliki keduanya, statusnya diakui oleh Negara sebagai guru professional. Pada sisi lain,baik UU No. 14 Tahun 200entang Guru dan Dosen maupun PP No. 74 tentang Guru, telah mengamanatkan bahwa ke depan, hanya yang berkualifikasi S1/D-IV bidang kependidikan dan nonkependidikan yang memenuhi syarat sebagai guru. Itu pun jika mereka telah menempuh dan dinyatakn lulus pendidikan profesi. Pada sisi lain, dua produk hukum ini menggariskan bahwa peserta pendidikan profesi ditetapkan oleh menteri, yang sangat mungkin didasari  atas kuota kebutuhan formasi.

Beberapa amanat penting yang dapat disadap (diterima) dari dua produk hukum ini. Pertama, calon peserta pendidikan profesi berkualifikasi S1/D-IV. Kedua, sertifikat pendidik bagi guru diperoleh melalui program pendidikan profesi yang diselenggarakan oleh perguruan tinggi yang memiliki program pengadaan tenaga kependidikan yang terakreditasi, baik yang diselenggarakan oleh pemerintah maupun masyarakat, dan ditetapkan oleh masyarakat. Ketiga, sertifikasi pendidik bagi calon guru harus dilakukan secra objektif, transparan, dan akuntabel.

Keempat, jumlah peserta didik program pendidikan profesi setiap tahun ditetapkan oleh Menteri. Kelima, program pendidikan profesi diakhiri dengan uji kompetensi pendidik. Keenam, uji kompetensi pendidik dilakukan melalui ujian tertulis dan ujian kinerja sesuai dengan standar kompetensi.

Ketujuh, ujian tertulis dilaksanakan secara komprehensif yang mencakup penguasaan:

(1)   Wawasan atau landasan kependidikan, pemahaman terhadap peserta didik, pengembangan kurikulum atau silabus, perancangan pembelajaran, dan evaluasi hasil belajar;

(2)   Materi pelajaran secara luas dan mendalam sesuai dengan standar isi mata pelajaran, kelompok mata pelajaran dan program; dan

(3)   Konsep-konsep disiplin keilmuwan, teknologi, atau seni yang secara konseptual menaungi materi pelajaran. kedelapan, ujian kinerja dilaksanakan secara holistik dalam bentuk ujian praktek pembelajaran yang mencerminkan penguasaan kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial pada satuan pendidikan yang relevan.

Jika regulasi ini dipatuhi secara taat asas, tidak ada alasan calon guru pada sekolah-sekolah di Indonesia berkualitas di bawah standar. Namun demikian, ternyata setelah mereka direkrut untuk menjadi guru, yang dalam skema kepegawaian negeri sipil (PNS) guru, mereka belum bisa langsung bertugas penuh ketika menginjakan kaki pertama kali dikampus sekolah. Melainkan, mereka masih harus memasuki fase prakondisi yang disebut dengan induksi. Ketika menjalani program induksi, diidealisasikan guru akan dibimbing dan dipandu oleh mentor terpilih untuk kurun waktu sekitar satu tahun, agar benar-benar siap menjalani tugas-tugas profesional. Ini pun tentu tidak mudah, karena di daerah pinggiran atau pada sekolah-sekolah yang nunjauh di sana, sangat mungkin akan menjadi tidak jelas guru seperti apa yang tersedia dan bersedia menjadi mentor.

Jadi, dari pernyataan-pernyataan diatas dapat dipahami bahwa penyediaan guru di Indonesia belum maksimal. Karena masih terdapat guru yang kurang memenuhi kualifikasi terutama di sekolah-sekolah pelosok. Kalaupun ada calon guru yang sudah memenuhi sayarat akademik itupun juga masih ada yang belum langsung bisa bertugas penuh. Melainkan masih harus memasuki fase prakondisi atau induksi.

 

INDUKSI GURU PEMULA

Lahirnya UU No. 14 Tahun 2005 dan PP No. 74 Tahun 2008 seperti dimaksudkan di atas mengisyaratkan bahwa ke depan, hanya lulusan S1/ D-IV yang memiliki sertifikat pendidiklah yang akan direkeut menjadi guru. Namun demikian, sunggupun guru yang direkrut telah memiliki kualifikasi minimum dan sertifikat pendidik, yang dalam produk hukum dilegitimasi sebagai telah memiliki kewenangan penuh, ternyata masih diperlukan program induksi untuk memposisikan mereka menjadi guru yang benar-benar professional. Memang, pada banyak literature akademik, program induksi diyakini merupakan fase yang harus dilalui ketika seseorang dinyatakan diangkat dan ditempatkan sebagai guru. Program induksi merupakan masa transisi bagi guru pemula (beginning teacher) terhitung mulai dia pertama kali menginjak kaki di sekolah atau satuan pendidikan hingga benar-benar layak dilepas untuk menjalankan tugas pendidikan dan pembelajaran secara mandiri.

Kebijakan ini memperoleh legitimasi akademik, karena secara teoritis dan empiris lazim dilakukan di banyak Negara. Sehebat apapun pengalaman teoritis calon guru dikampus, ketika menghadapi realitas kehidupan dunia kerja, suasananya akan lain. Persoalan mengajar bukan hanya berkaitan dengan materi apa yang akan di ajarkan dan bagaimana mengajarkannya, melainkan semua subsistem yang ada di sekolah dan di masyarakat ikut mengintervensi perilaku nyata yang harus ditampilkan oleh guru, baik didalam maupun di luar kelas.

 

PROFESSIONAL GURU BERBASIS LEMBAGA

Ketika guru selesai menjalani proses induksi dan kemudian secara rutin keseharian menjalankan tugas-tugas profesional, profesionalisasi atau proses penumbuhan dan pengembangan profesinya tidak berhenti di situ. Diperlukan upaya yang terus menerus agar guru tetap memiliki pengetahuan dan keterampilan yang sesuai dengan tuntutan kurikulum serta kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi. Di sinilah esensi pembinaan dan pengembangan profesional guru. Kegiatan ini dapat dilakukan atas prakarsa institusi, seperti pendidikan dan pelatihan, workshop, magang, studi banding, dan lain-lain adalah penting. Prakarsa ini menjadi penting, karena secara umum guru pemula masih memiliki keterbatasan, baik finansial, jaringan, waktu, akses, dan sebagainya. Namun, yang tidak kalah pentingnya adalah prakarsa personal guru untuk menjalani profesionalisasi.

Kegiatan pembinaan dan pengembangan itu dilaksanakan secara sistematis dengan menempuh tahapan-tahapan tertentu, seperti analisis kebutuhan, perumusan tujuan dan sasaran, desain program, implementasi dan deliveri program, dan evaluasi program. Ini berarti bahwa kegiatan pembinaan dan pengembangan kemampuan profesional guru secara berkelanjutan harus dilaksanakan atas perencanaan, pengorganisasian, pelaksanaan, dan evaluasi yang sistematis.

Aktivitas-aktivitas pengembangan guru tersebut memiliki temali satu sama lain. Pada fase perencanaan, fokus perhatian terpusat pada kebutuhan akan kegiatan pendidikan, pelatihan, dan pengembangan apa yang diperlukan bagi guru. Penentuan jenis kegiatan pendidikan dan pelatihan ini didasari atas diagnosis mengenai masalah dan tantangan yang dihadapi oleh guru dan satuan pendidikan saat ini, serta kemungkinannya di masa depan, termasuk kemungkinan perubahan kebijakan dan strategi kerja keorganisasian.

Tujuan dan sasaran pendidikan dan pelatihan guru ditetapkan dengan mencerminkan kondisi yang diingini, sekaligus menjadi ukuran keberhasilan program itu. Perumusan tujuan dan sasaran ini akan menjadi acuan dalam menentukan substansi dan pelaksanaan program, dengan titik tekan pada upaya memenuhi kebutuhan guru dan satuan pendidikan secara nyata. Evaluasi program dimaksudkan untuk menentukan tingkat keberhasilan kegiatan-kegiatan pembinaan dan pengembangan yang dilakukan, serta kelemahan-kelemahan selama proses penyelenggaraan. Hal ini akan menjadi umpan balik bagi perencanaan program pengembangan yang lebih efektif dan efisien.

Pendidikan, pelatihan, dan pengembangan merupakan proses yang ditempuh oleh guru pada saat menjalani tugas-tugas kedinasan. Kegiatan ini diorganisasikan secara beragam dan bersprektrum luas dengan tujuan untuk meningkatkan kompetensi, keterampilan, sikap, pemahaman, dan performansi yang dibutuhkan oleh guru saat ini dan di masa mendatang. Di banyak negara, saat ini berkembang kecenderungan-kecenderungan baru dalam pembinaan dan pengembangan tenaga kependidikan, terutama tenaga guru. Kecenderungan-kecenderungan baru dimaksud adalah:

  1. Berbasis pada program penelitian
  2. Menyiapkan guru untuk menguji dan mengases kemampuan praktis dirinya
  3. Diorganisasikan dengan pendekatan kolegalitas
  4. Berfokus pada partisipasi guru dalam proses pembuatan keputusan mengenai isu-isu esensial di lingkungan sekolah

Membantu guru-guru yang dipandang masih lemah pada beberapa aspek tertentu dari kompetensinya. Dengan demikian, kegiatan ini merujuk kepada peluang-peluang belajar (learning opportunities) yang di desain secara sengaja untuk membantu pertumbuhan profesional guru. Lebih spesifik, ia dimaksud untuk meningkatkan dan mengembangkan kompetensi pedagogik, kepribadian, profesional, dan sosial, bahkan dapat dilakukan sebagai wahana promosi bagi guru.

 

PROFESSIONAL GURU BERBASIS INDIVIDU

Realitas membuktikan, hanya sebagian kecil guru memiliki peluang menjalani profesionalisasi atas prakarsa institusi atau lembaga. Untuk indonesia, data statistik menunjukkan bahwa setiap tahunnya hanya sekitar 5 persen guru yang berpeluang mengikuti aneka program pengembangan yang dilembagakan sejenis penetaran atau pelatihan dilembaga-lembaga pelatihan atau lembaga sejenisnya. Ini berarti dalam waktu sekitar 20 tahun, masing-masing guru hanya berpeluang mengikuti 1 kali mengikuti program pengembangan profesi yang dilembagakan, bukan atas inisiatif sendiri. Itupun dengan asumsi bahwa akses guru mengikuti program dimaksud bersifat dibagi rata.

Kenyataan dilapangan, begitu banyak guru yang sama sekali tidak memiliki akses mengikuti program pendidikan, pelatihan, dan pengembangan secara lembaga, kecuali pada saat mereka menempuh pelatihan prajabatan dari calon PNS ingin menjadi PNS penuh. Menghadapi realitas ini, kalau guru mau tetap eksis pada profesi dengan derajat profesional yang layak ditampilkan, tidak ada pilihan lain dia harus melakukan profesionalisasi secara mandiri yang dalam buku ini disebut sebagai guru profesional madani atau guru profesional.

Untuk menjadi guru profesional, perlu perjalanan panjang. Diawali dengan penyiapan calon guru, rekrutmen, penempatan, penugasan, pengembangan profesi dan karir, hingga menjadi guru profesionalsebenarnya, yang menjalani profesionalisasi secara terus-menerus. Guru semacam inilah yang kelak akan menjelma sebagai guru profesional. Edy suharto mengemukakan masyarakat madani adalah sebuah masyarakat demokratis dimana anggotanya menyadari akan hak-hak dan kewajibannya dalam menyuarakan pendapatr dan mewujudkan kepentingan-kepentingannya, dimana pemerintahannya memberikan peluang yang seluas-luasnya bagi kreatifitas warga negara untuk mewujudkan  program-program pembangunan di wilayahnya. Istilahnya masyarakat madani nesensinya merupakan lawan dari tradisi struktur yang menekan kebebasan dan hak demokrasi warga negara.

Merujuk pada referensi berpikir di atas, guru profesional sesungguhnya adalah guru yang didalam melaksanakan tugas pokok dan fungsinya bersifat otonom, menguasai kompensasi secara khomphrensif dan daya intelektual tinggi. Kata otonom mengandung makna, bahwa guru profesional adalah mereka yang secara profesional dapat melaksanakan tugas dengan pendekatan bebas dari intervensi kekuasaan atau birokrasi pendidikan. Dengan demikian, guru harus menjadi profesional sebenarnya untuk bisa tumbuh secara madani. Guru profesional melebihi batas-batas yang dimiliki oleh guru profesional yang banyak dibahas dalam literatur akademik.

Guru profesional adalah mereka yang memiliki kemandirian tinggi ketika berhadapan birokrasi pendidikan dan pusat-pusat kekuasaan lainnya. Mereka memiliki ruang gerak yang bebas sebagai wahana bagi keterlibatannya dibidang pendidikan dan pembelajaran, pengembangan profesi, pengabdian masyarakat dean kegiatan penunjang lainnya. Guru profesionalpun memiliki daya juang dan energi untuk mereduksi secara kuatmunculnya kuasa birokrasi pendidikan, kepala sekolah dan pengawas sekolah atas hak dan kewajibannya. Merekapun bebar beralifiasi kedalam organisasi sebagai wahana perjuangan, pengembangan profesi dan penegakan independensi sebagai “pekerja” yang memiliki atasan langsung. Dengan demikian, dari sisi kepribadian untuk tumbuh menjalani profesionalisasi, ciri-ciri umum guru professional antara lain:

  1. melakukan profesionalisasi-diri,
  2. memotivasi diri,
  3. memiliki disiplin diri,
  4. mengevaluasi diri,
  5. memiliki kesadaran diri,
  6. melakukan pengembangan diri,
  7. menjadi pembelajar,
  8. melakukan hubungan efektif,
  9. berempati tinggi, dan
  10. taat asa pada kode etik

 

Guru profesional memiliki arena khusus untuk berbagi minat, tujuan, dan nilai-nilai profesional serta kemanusiaan mereka. Dengan sikap dan sifat semacam itu, guru profesional memiliki kemampuan melakukan profesionalisasi secara terus-menerus, memotivasi-diri, mendisiplinkan dan meregulasi diri, mengevaluasi-diri, kesadaran-diri, mengembangkan-diri, berempati, menjalin hubungan yang efektif. Guru profesionalpun adalah pembelajar sejati dan menjunjung tinggi kode etik dalam bekerja. Sejalan dengan uraian sebelumnya, guru profesional bercirikan sebagai berikut :

1)      Mempunyai kemampuan profesional dan siap diuji atas kemampuannya,

2)      Memiliki kemampuan berintegrasi antarguru dan kelompok lain yang “seprofesi” dengan mereka melalui kontrak dan aliansi social,

3)      Melepaskan diri dari belenggu kekuasaan birokrasi, tanpa menghilangkan makna etika kerja dan tata santun berhubungan dengan atasannya,

4)      Memiliki rencana dan program pribadi untuk meningkatkan kompetensi dan gemar melibatkan diri secara individual atau kelompok seminar untuk merangsang pertumbuhan diri,

5)      Berani dan mampu memberikan masukan kepada semua pihak dalam rangka perbaikan mutu pendidikan dan pembelajaran, termasuk dalam penyusunan kebijakan bidang pendidikan

6)      Siap bekerja secara tanpa diatur, karena sudah bisa mengatur dan mendisiplinkan diri sendiri

7)      Siap bekerja tanpa disuruh atau diancam, karena sudah bisa mengatur dan memotivasi dirinya

8)      Secara rutin melakukan evaluasi diri untuk mendapatkan umpan balik demi perbaikan diri

9)      Memiliki empati yang kuat

10)  Mampu berkomunikasi secara efektif dengan siswa, kolega, komunitas,sekolah, dan masyarakat

11)  Menjunjung tinggi etika kerja dan kaedah-kaedah hubungan kerja

12)  Menjunjung tinggi kode etik organisasi tempatnya bernaung

13)  Memiliki kesetiaan (loyalitas), dan kepercayaan (trust), dalam makna tersebut mengakui keterkaitannya dengan orang lain dan tidak mementingkan diri sendiri

14)  Adanya kebebasan diri dalam beraktualisasi melalui kegiatan lembaga-lembaga sosial dengan berbagai ragam perspektif.

Tinggalkan komentar »

Definisi, Peran dan Tugas Guru

Definisi Profesi Guru

Definisi yang kita kenal sehari-hari adalah bahwa guru merupakan orang yang harus digugu dan ditiru, dalam arti orang yang memiliki charisma atau wibawa hingga perlu untuk ditiru dan diteladani. Mengutip pendapat Laurence D. Hazkew dan Jonathan C. Mc Lendon dalam bukunya This is Teaching (hlm 10): “Teacher is professional person who conducts classes.” (Guru adalah seseorang yang mempunyai kemampuan dalam menata dan mengelola kelas). Sedangkan menurut Jean D. Grambs dan C. Morris Mc Clare dalam Foundation of Teaching, An Introduction to Modern Education, hlm. 141: “teacher are those persons who consciously direct the experiences and behavior of an individual so that education takes places.” (Guru adalah mereka yang secara sadar mengarahkan pengalaman dan tingkah laku dari seseorang individu hingga dapat terjadi pendidikan).

Sedangkan pada prinsipnya profesi sendiri adalah suatu lapangan pekerjaan yang dalam melakukan tugasnya memerlukan teknik dan prosedur ilmiah, memiliki dedikasi yang tinggi dalam menyikapi pekerjaan serta berorientasi pada pelayanan yang baik. Artinya profesi guru dapat dikategorikan suatu pekerjaan ideal memberikan pelayanan pendidikan kepada masyarakat yang membutuhkannya dan member tauladan yang baik.

Peran Guru

           Seperti dijelaskan sebelumnya, guru bermakna sebagai pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada jalur pendidikan formal. Sejalan dengan itu, guru memiliki peran yang bersifat multi fungsi, lebih dari sekedar yang tertuang pada produk hukum tentang guru, seperti UU No. 14 tahun 2005 tentang Guru dan Dosen dan PP No. 74 tentang Guru. Mujtahid (2010) mengemukakan bahwa guru berperan sebagai perancang, penggerak, evaluator, dan motivator dideskripsikan seperti berikut ini :

1.      Guru sebagai Perancang

Guru sebagai perangcang yaitu menyusun kegiatan akademik atau kurikulum dan pembelajaran, menyusun kegiatan kesiswaan, menyusun kebutuhan sarana prasarana dan mengestimasi sumber-sumber pembiayaan operasional sekolah, serta menjalin hubungan dengan orangtua, masyarakat, pemangku kepentingan dan instansi terkait. Untuk tugas – tugas administrative tertentu, guru dapat

2. Guru sebagai pendidik

Guru adalah pendidik, yang menjadi tokoh, panutan dan identifikasi bagi para peserta didik, dan lingkungannya. Oleh karena itu, guru harus memiliki standar kualitas pribadi tertentu, yang mencakup tanggung jawab, wibawa dan disiplin. Berkenaan dengan wibawa; guru harus memiliki kelebihan dalam merealisasikan nilai spiritual, emosional, moral, sosial, intelektual dalam pribadinya, serta memiliki kelebihan dan pemahaman ilmu pengetahuan, teknologi an seni sesuai dengan bidang yang dikembangkan. Sedangkan disiplin dimaksudkan bahwa guru harus mematuhi berbagai peraturan dan tata tertib secara konsisten, atas kesadaran profesional karena mereka bertugas unutk mendisiplinkan peserta didik didalam sekolah, terutama dalam pembelajaran. Oleh karena itu menanamkan disiplin guru harus memulai dari dirinya sendiri, dalam berbagai tindakan dan perilakunya.

3.      Guru sebagai penggerak

Guru dikatakan sebagai penggerak, yaitu mobilisator yang mendorong dan menggerakkan system organisasi sekolah. Untuk melaksanakan fungsi – fungsi tersebut, seorang guru harus memiliiki kemampuan intelektual, misalnya mempunyai jiwa visioner, creator, peneliti, jiwa rasional, dan jiwa untuk maju. Kepribadian seperti luwes, wibawa, adil dan bijaksana juga jujur.

Untuk mendorong dan menggerakkan system sekolah yang maju memang membutuhkan kemampuan brilian tersebut guna mengefektifkan kinerja sumber daya manusia secara maksimal dan berkelanjutan. Sebab itu pola ini dapat terbangun secara kolektif dan dilaksanakan dengan sungguh oleh guru, maka akan muncul perubahan besar dalam system manajemen sekolah yang efektif. Melalui cita – cita dan visi benar inilah guru sebagai agen penggerak diharapkan mempunyai rasa tanggungjawab, rasa memiliki, serta rasa ingin memajukan lembaga sekolahnya sebagai tenda besar mendedikasikan hidup mereka.

4.      Guru sebagai Evaluator

Guru menjalankan fungsi sebagai evaluator, yaitu melakukan evaluasi/penilaian terhadap aktivitas yang telah dikerjakan dalam system sekolah. Peran ini penting, karena guru sebagai pelaku utama dalam menentukan pilihan serta kebijakan yang relevan demi kebaikan system yang ada di sekolah, baik menyangkut kurikulum, pengajaran, sarana – prasarana, sasaran dan tujuan. Evaluasi atau penilaian merupakan aspek pembelajaran yang paling kompleks, karena melibatkan banyak latar belakang dan hubungan, serta variabel yang mempunyai arti apabila berhubungan dengan konteks yang hampir tidak mungkin dapat dipisahkan dengan setiap segi penilaian. Sebagai suatu proses, penilaian dilaksanakan dengan prinsip-prinsip dan dengan teknik yang sesuai, mungkin tes ataupun non tes. Teknik apapun yang dipilih, penilaian harus dilakukan dengan prosedur yang jelas, yang meliputi 3 tahap yaitu persiapan, pelaksanaan dan tindak lanjut. Selain menilai peserta didik, guru harus pula menilai dirinya sendiri baik sebagai perencana maupun penilai program pembelajaran. Oleh karena itu ia harus memiliki pengetahuan yang memadai tentang penilaian program sebagai mana memahami penilaian hasil belajar.

5.      Guru sebagai Motivator

Dalam proses pembelajaran, motivasi merupakan penentu keberhasilan. Seorang guru memerankan diri sebagai motivator murid – muridnya. Guru sebagai motivator artinya guru sebagai pendorong siswa dalam rangka meningkatkan kegairahan dan pengembangan kegiatan belajar siswa. Sering terjadi siswa yang kurang berprestasi, hal ini bukan disebabkan karena memiliki kemampuan yang rendah, akan tetapi disebabkan tidak adanya motivasi belajar dari siswa sehingga ia tidak berusaha untuk mengerahkan segala kemampuannya. Dalam hal seperti ini guru sebagai motivator harus dapat mengetahui motif – motif yang menyebabkan daya belajar siswa yang rendah yang dapat menyebabkan menurunnya prestasi belajarnya. Guru harus merangsang dan memberikan dorongan serta reinforcement untuk membangkitkan kembali gairah dan semangat belajar siswa. Proses pembelajaran akan lebih berhasil jika siswa memiliki motivasi dalam belajar, maka guru dituntut kreatif membangkitkan motivasi belajar siswa. Beberapa upaya guru dalam memberikan motivasi belajar, yaitu sebagai berikut :

  • Memperjelas tujuan yang ingin dicapai.

Tujuan yang jelas dapat membuat siswa paham ke arah mana ia ingin dibawa. Pemahaman siswa tentang tujuan pembelajaran dapat menumbuhkan minat siswa untuk belajar yang pada gilirannya dapat meningkatkan motivasi belajar.

  • Membangkitkan minat siswa

Beberapa cara yang dapat dilakukan minat belajar siswa di antaranya :

-          Hubungan bahan pelajaran yang akan di ajarkan dengan kebutuhan siswa

-          Sesuaikan materi pelajaran dengan tingkat pengalaman dan kemampuan siswa

-          Gunakan berbagai model dan strategi pembelajaran secara bervariasi.

  • Ciptakan suasana yang menyenangkan dalam belajar.

Siswa hanya mungkin dapat belajar dengan baik, manakala ada dalam suasana yang menyenangkan, merasa aman bebas dari rasa takut.

  • Berilah pujian yang wajar terhadap setiap keberhasilan siswa.

Motivasi akan tumbuh manakala siswa merasa dihargai. Memberikan pujian yang wajar merupakan salah satu cara yang dapat dilakukan untuk memberikan penghargaan.

  • Berikan Penilaian

Banyak siswa yang belajar karena ingin memperoleh nilai bagus. Untuk itu mereka belajar dengan giat. Bagi sebagian siswa nilai dapat menjadi motivasi yang kuat untuk belajar.

 

 

Perluasan Peran Guru dalam sekolah

Di masa depan, peran guru akan menjadi makin sangat strategis, meski tidak selalu dapat ditafsirkan paling dominan dalam kerangka pembelajaran. Guru tidak lagi hanya sebatas bisa bekerja secara manual, melainkan sudah harus makin akrab dengan instrument teknologi informasi dan komunikasi. Hal ini berimplikasi pada perubahan sikap dan perilaku mereka dalam melaksanakan tugasnya. Karenanya guru masa depan harus mampu memainkan peran seperti berikut :

1. Guru sebagai penasehat

Guru adalah seorang penasehat bagi peserta didik, bahkan bagi orang tua meskipun mereka tidak memiliki latihan khusus sebagai penasehat dan dalam beberapa hal tidak dapat berharap untuk menasehati orang.

Agar dapat menyadari perannya sebagai orang kepercayaan dan penasehat secara lebih mendalam, ia harus memahami psikologi kepribadian dan ilmu kesehatan mental. Diantara makhluk hidup di planet ini, manusia merupakan makhluk yang unik, dan sifatnya pun berkembang secara unik pula. Menjadi apa dia, sangat dipengaruhi oleh pengalaman, lingkungan belajar dan pendidikan. Untuk menjadi manusia dewasa, manusia harus belajar dari lingkungan selama hidup dengan menggunakan kekuatan dan kelemahannya. Pendekatan psikologis dan mental yang sehat diatas akan  banyak menolong guru dalam menjalankan fungsinya sebagai penasehat yang telah banyak dikenal bahwa ia banyak membantu peserta didik untuk dapat membuat keputusan sendiri.

2. Guru sebagai pembaharu (innovator)

Guru menerjemahkan pengalaman yang telah lalu ke dalam kehidupan yang bermakna bagi peserta didik. Dalam hal ini terdapat jurang yang dalam dan luas antara generasi yang satu dengan yang lain, demikian halnya pengalaman orang tua yang lebih banyak daripada nenek kita. Tugas guru disini adalah memahami bagaimana keadaan jurang pemisah ini, dan bagaimana menjembataninya secara efektif. Jadi yang menjadi dasar adalah pikiran-pikrian tersebut dan cara yang digunakan untuk mengekspresikan dibentuk oleh corak waktu yang dipergunakan. Bahasa memang merupakan alat untuk berpikir, melalui pengamatan yang dilakukan dan menyusun kata-kata serta menyimpan dalam otak, terjadilah pemahaman sebagai hasil belajar.

3. Guru sebagai pribadi

Sebagai individu yang berkecimpung dalam pendidikan, guru harus memiliki kperibadian yang mencerminkan seorang pendidik. Tuntutan akan kepribadian sebagai pendidik kadang-kadang dirasakan lebih berat dibandingkan profesi lainnya. Ungkapan yang dikemukakan adalah guru bisa digugu dan ditiru. Digugu maksudnya bahwa pesan-pesan guru dapat idpercaya untuk dilaksanakan dan pola hidupnya bisa ditiru atau diteladani. Ujian terberat bagi guru dalam hal kepribadian adalah rangsangan yang memancing emosinya. Kestabilan emosi amat diperlukan, namun tidak semua orang mampu menahan emosi terhadap rangsangan perasaan, dan memang diakui bahwa tiap orang mempunyai tempramen yang berbeda. Kemarahan guru terungkap dalam kata-kata yang dikeluarkan, dalam raut muka, dan mungkin dengan gerakan-gerakan tertentu, bahkan yang yang dilahirkan dalam bentuk hukuman fisik.

4. Guru sebagai model dan teladan

Guru merupakan model atau teladan bagi para peserta didik dan semua orang yang mengganggap dia sebagai guru. Terdapat kecenderungan yang besar untuk menganggap bahwa peran ini tidak mudah untuk ditentang, apalagi ditolak. Menjadi teladan merupakan sifat dasar kegiatan pembelajaran, dan ketika seorang guru tidak mau menerima ataupun menggunakannya secara konstruktif maka telah mengurangi keefektifan pembelajaran. Peran dan fungsi ini patut dipahami dan tidak perlu menjadi beban yang memberatkan sehingga dengan keterampilan dan kerendahan hati akan memperkaya arti pembelajaran.

Apa yang menjadi teladan bagi peserta didik dari seorang figur guru yaitu :

  1. Sikap dasar
  2. Bicara dan gaya bicara
  3. Kebiasaan bekerja
  4. Sikap melalui pengalaman dari kesalahan
  5. Pakaian
  6. Hubungan kemanusiaan
  7. Proses berfikir
  8. Perilaku neurotis
  9. Kesehatan
  10. Gaya hidup secara umum

 

TUGAS GURU

Guru memiliki banyak tugas, baik yang terikat oleh dinas maupun di luar dinas,dalam bentuk PENGABDIAN. Guru merupakan profesi/jabatan atau pekerjaan yang memerlukan keahlian khusus sebagai guru dan tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan.

  1. Bidang Profesi meliputi :1.Mendidik : meneruskan dan mengembangkan nilai-nilai hidup.2.Mengajar : meneruskan dan mengembangkan ilmu pengetahuan danteknologi.3.Melatih : mengembangkan keterampilan-keterampilan pada siswa.
  2. Bidang Kemanusiaan : di sekolah harus dapat menjadikan dirinya sebagai orangtua kedua yang mampu menarik simpati sehingga ia menjadi idola parasiswanya, dan menjadi motivasi bagi siswanya dalam belajar.
  3. Bidang Kemasyarakatan : masyarakat menempatkan guru pada tempat yanglebih terhormat dilingkungannya karena dari seorang guru diharapkanmasyarakat dapat memperoleh ilmu pengetahuan. Ini berarti bahwa guruberkewajiban mencerdaskan bangsa menuju pembentukan manusia Indonesiaseutuhnya yang berdasarkan Pancasila.Semakin akurat para guru melaksanakan fungsinya, semakin terjamin tercipta danterbinanya kesiapan dan keandalan seseorang sebagai MANUSIA PEMBANGUNAN.
Tinggalkan komentar »

Keprofesian Bidang Kepengawasan Sekolah

  1. KUALIFIKASI PENGAWAS SEKOLAH

Dalam peraturan menteri pendidikan nasional No.12 Tahun 2007 tentang Standar Pengawas Sekolah / madrasah disebutkan bahwa Pengawas Sekolah harus memiliki kualifikasi dan pengalaman tertentu sesuai dengan jenis dan jenjang sekolah.

 

a)      Kualifikasi Pengawas Taman Kanak – Kanak / Raudhatul Athfal (TK/RA) dan Sekolah Dasar / Madrasah Ibtidaiyah (SD/MI) adalah sebagai berikut :

  • Berpendidikan minimum serjana (S1) atau diploma empat (D-IV) kependidikan dari perguruan tinggi terakriditasi
  • Memiliki pangakat minimum penata, golongan ruang III / C
  • Berusia setinggi – tingginya 50 tahun, sejak diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan
  • Memenuhi kompetensi sebagai pengawas satuan pendidikan yang dapat diperoleh melalui uji kompetensi dan atau pendidikan dan pelatihan fungsional pengawas, pada lembaga yang ditetapkan pemerintah
  • Lulus seleksi pengawas satuan pendidikan

 

b)      Kualifikasi pengawas sSekolah Menengah Pertama / Madrasah Tsanawiyah (SMP/MTS), Sekolah Mengeah Atas / Madarasah Aliyah (SMA/MA), dan sekolah Mengengah Kejuruan / Madrasah Aliyah Kejuruan (SMK/MAK) adalah sebagai berikut :

  • Memiliki pendidikan minimum megister (S2) kependidikan dengan berbasis sarjana (S1) dalam rumpun mata pelajaran yang relevan pada perguruan tinggi terakreditasi
  • Memiliki pangakat minimum penata, golongan ruang III / C
  • Berusia setinggi – tingginya 50 tahun, sejak diangkat sebagai pengawas satuan pendidikan
  • Memenuhi kompetensi sebagai pengawas satuan pendidikan yang dapat diperoleh melalui uji kompetensi dan atau pendidikan dan pelatihan fungsional pengawas, pada lembaga yang ditetapkan pemerintah
  • Lulus seleksi pengawas satuan pendidikan.
Tinggalkan komentar »

Keprofesian Bidang Kekepalasekolahan

  1. A.    FUNGSI KEPALA SEKOLAH

Jabatan kepala sekolah di duduki oleh orang yang menyandang profesi guru. Karena itu, ia harus professional sebagai guru sekaligus sebagai kepala sekolah dengan derajat profesionalisme tertentu. Kepala sekolah memiliki fungi yang luas, dan dapat memerankan banyak fungsi-fungsi tersebut meskipun dengan topi yang berbeda.

Di lingkungan kementrian pendidikan nasional , telah cukup lama di kembangkan paradigma baru administrasi atau manajemen pendidikan, dimana kepala sekolah minimal harus mampu berfungsi sebagai educator, manajer, administrator, supervisor, leader, innovator, dan motivator. Jika merujuk pada Peraturan Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 13 Tahun 2007 tentang standart Kepala sekolah/madrasah, kepala sekolah juga harus berjiwa wirausaha atau entrepreneur. Fungsi-fungsi kepala sekolah seperti yang telah disebutkan di atas, akan dijelaskan sebagai berikut:

  • Kepala Sekolah Sebagai Educator

Sebagai educator kepala sekolah berfungsi menciptakan iklim sekolah yang kondusif, memberikan nasihat kepada warga sekolah, memberikan dorongan guru dan tenaga kependidikan untuk berbuat serta melaksanakan model pembelajaran yang menarik. Sebagai educator, kepala sekolah harus mampu menginisiasi pengajaran tim, moving class, pengembangan sekolah bertaraf internasional, kelas unggulan dan mengadakan program akselerasi bagi siswa yang cerdas di atas normal. Sebagai educator juga, kepala sekolah perlu berupaya meningkatkan kualitas guru maupun prestasi belajar siswa dalam sekolahnya. Misalkan saja dengan menyertakan guru dalam penataran atau diklatbang untuk menambah wawasannya, memberikan kesempatan kepada guru untuk meningkatkan pengetahuan dan ketrampilannya dengan belajar lagi ke perguruan tinggi, membuat tim evaluasi belajar siswa, memaksimalkan jam pelajaran di sekolah dan optimasi ruang kerja guru sebagai wahana tukar pengalaman antar rekan sejawat untuk perbaikan kerja masing-masing.

  • Kepala Sekolah Sebagai Manager

Dalam rangka melakukan peran dan fungsinya sebagai manajer, kepala sekolah memerlukan strategi yang tepat untuk memberdayakan guru dan tenaga kependidikan lainnya dalam persaingan dan kebersamaan, memberikan kesempatan kepada tenaga kependidikan untuk meningkatkan profesinya, mendorong keterlibatan seluruh tenaga kependidikan untuk ikut serta dalam setiap kegiatan yang menunjang program sekolah. Sebagai manajer sekolah, kepala sekolah harus mampu mengoptimasi dan mengakses sumber daya sekolah untuk mewujudkan visi, misi dan tujuan sekolahnya. Disisi lain sebagai manajer, seorang kepala sekolah harus mampu menghadapi persoalan, memecahkan masalah, mengambil keputusan yang memuaskan semua pihak, selain itu kepala sekolah juga mampu mendelegasikan tugasnya mengalokasikan pekerjaannya, menentukan standart kualitas, memonitor hasil, mengontrol biaya, dll. Dan semua peranan tersebut tidak hanya dilakukan secara konseptual tetapi juga dengan cara persuasive dari hati ke hati.

  • Kepala Sekolah Sebagai Administrator

Sebagai administrator tugas kepala sekolah erat hubungannya dengan pelbagai aktivitas administrasi sekolah, baik secara fungsional maupun substansial. Kegiatan administrasi yang dimaksud meliputi pencatatan dan penyusunan, dan pendokumenan seluruh program sekolah. Secara spesisifik kepala sekolah harus memiliki kemampuan mengelola kurikulum, mengelola administrasi kearsipan dan administrasi keuangan. Kegiatan tersebut perlu perlu dilakukan secara efektif dan efisien, untuk menunjang produktivitas sekolah. Dalam pelbagai kegiatan administrasi sekolah, maka pembuatan perencanaan mutlak di perlukan. Perencanaan yang akan dibuat oleh kepala sekolah tergantung oleh banyak factor seperti, banyaknya SDM ynag dimiliki, dana yang tersedia dan jangka waktu untuk melaksanakan rencana yang telah di buat. Tugas-tugas ini harus dilakukan secara logis dan sistematis, yang semuanya memoros pada kepentingan prose pendidikan dan pembelajaran demi peningkatan mutu kelulusan, dengan indicator antara lain peningkat nilai siswa dan akses mudah melanjutkan studi.

  • Kepala Sekolah Sebagai Supervisor

Kepala sekolah dalam tugas ini berorientasi pada teknik individu, kelompok dan kunjungan kelas. Untuk itu sebagai supervisor kepala sekolah mensupervisi barbagai tugas pokok yang dilakukan guru dan seluruh staf. Untuk itu kepala sekolah harus mampu melakukan berbagai pengawasan dan pengendalian untuk meningkatkan kinerja guru dan tenaga kependidikan. Hal ini bertujuan agar kegiatan pendidikan di sekolah terarah pada tujuan yang telah di tetapkan. Ini juga merupakan kegiatan preventif untuk mencegah agar tidak tejadi penyimpangan. Pengawasan dan pengendalian yang dilakukan kepala sekolah terutama kepada guru atau disebut supervise klinis dilakukan dengan tujuan untuk meningkatkan kemampuan professional guru dan kualitas pembelajaranyang efektif. Tugas kepala sekolah sebagaii supervise di wujudkan dalam kemampuannya menyusun dan melaksanakan program supervise pembelajaran serta memanfaatkan hasilnya. Kemampuan menyusun program pembelajaran contohnya penyusunan program supervise kelas, ekstra kurikuler, pengembangan perpustakaan laboratorium dan ujian.  Kemampuan pelaksanaan supervise contohnya pelaksanaan program supervise klinis dan dalam program supervise ekstrakurikuler. Kemampuan memanfaatkan hasil supervise pembelajaran contohnya meningkatkan kinerja guru dan tenaga kependidikan lainnya untuk mengembangkan sekolah. Kepala sekolah sebagai supervise klinis dan supervise pembelajaran perlu memerhatikan prinsip-prinsip:

-          Hubungan konsultatif

-          Kolegial bukan hirarkis

-          Dilaksanakan secara demokratis

-          Berpusat kepada guru dan tenaga kependidikan

-          Dilakukan berdasarkan kebutuhan guru dan tenaga kependidikan

-          Serta merupakan bantuan professional

  • Kepala Sekolah Sebagai Leader

Secara umum kepala sekolah sebagai leader adalah upaya untuk memengaruhi orang-orang untuk bekerja sama mencapai tujuan, dengan berorientasi pada tugas dan berorientasi pada hubungan. Namun secara khusus seorang kepala sekolah harus mampu memberikan petunjuk dan pengawasan, meningkatkan kemauan dan kemampuan guru maupun tenaga kependidikan, membuka komunikasi dua arah dan mendelegasikan tugas. Untuk itu kepala sekolah diituntut memiliki karakter khusus yang mencangkup kepribadia, keahlian dasar, pengalaman dan pengetahuan professional, serta pengetahuan administrasi. Sebagai pemimpin, kepala sekolah harus memiliki sifat jujur, percaya diri, bertanggung jawab, berani mengambil resiko dan keputusan, berjiwa besar, emoosi yang stabil, dan teladan. Di sisi lain, sebagai pemimpin kepala sekolah harus mampu:

-          Memperkuat tim sebagai kekuatan pembangun

-          Menggabungkan aspek-aspek positif individualitas

-          Berfokus pada detail pekerjaan

-          Menerima tanggung jawab

-          Membangun hubungan antar pribadi

-          Menjaga keterbukaan

-          Memelihara sifat progresif

-          Bangga dan menghargai prestasi kerja tim

-          Menantang perubahan, dan

-          Tanpa berkompromi terhadap kualitas

  • Kepala Sekolah Sebagai Innovator

Dalam rangka memenuhi peran dan fungsinya sebagai innovator kepala sekolah perlu memiliki strategi yang tepat untuk menjalin hubungan yang harmonis dengan lingkungan, mencari gagasan baru, mengintegrasikan setiap kegiatan, memberikan teladan guru dan tenaga kependidikan dan mengembangkan model-model pembelajaran yang inovatif. Tugas kepala sekolah sebagai innovator yang baik juga akan tercermin dari cara-cara ia melakukan pekerjaannya secara konstruktif, kreatif, delegatif, integrative, rasional dan objektif, pragmatis, keteladanan, disiplin, disiplin serta adaptable dan fleksibel. Tidak hanya itu sebagai innovator ia harus mempunyai gagasan-gagasan baru misalkan peningkatan teknologi informasi dalam pembelajaran agar warga sekolahnya tidak ketinggalan jaman dan tetap up to date.

  • Kepala Sekolah Sebagai Motivator

Sebagai motivator kepala sekolah harus memiliki strategi untuk memotivasi bawahannya, yaitu guru dan staf. Dimana mereka dimotivasi untuk melakukan berbagai tugas dan fungsinya. Motivasi ini dapat dilakukan melalui pengaturan lingkungan fisik, suasana kerja, disiplin, dorongan, penghargaan bagi guru atau staf yang berprestasi serta penyediaan berbagai sumber belajar melalui pengembangan sentra belajar. Dorongan dan penghargaan merupakan sumber motivasi yang efektif diterapkan oleh kepala sekolah. Keberhasilan suatu organisasi ditentukan oleh banyak factor, dan motivasi merupakan factor yang dominan untuk menuju keefektivan kerja individu bahkan motivasi sering digambarkan sebagai mesin pada sebuah mobil yang  berfungsi sebagai penggerak dan pengarah. Setiap tenaga kependidikan memiliki karakteristik berbeda-beda, sehingga memerlukan perhatian dan pelayanan khusus dari pimpinannya (Kepala Sekolah) dalam mengembangkan profesionalitasnya. Untuk memotivasi pegawainya, ada beberapa prinsip yang bisa diterapkan oleh kepala sekolah, antara lain:

  1. Tenaga kependidikan akan bekerja lebih giat apabila kegiatan yang dilakukan menarik dan menyenangkan
  2. Tujuan pendidikan harus jelas dan diketahui oleh seluruh anggota, bahkan tenaga pendidikan dapat diikut sertakan dalam penyusunan tujuan tersebut
  3. Setiap individu harus diberi tahu tentang hasil pekerjaanya
  4. Pemberian hadiah lebih baik dari pada hukuman, meskipun terkadang hukuman itu di perlukan
  5. Usaha memenuhi kebutuhan tenaga kependidikan dapat dilakukan dengan jalan memerhatikan kondisi fisiknya, memberikan rasa aman, mengatur pengalaman sedemikian rupa sehingga setiap pegawai pernah memperoleh kepuasan dan penghargaan atas pekerjaannya. Oleh sebab itu, kepala sekolah harus berusaha memberikan penghargaan secara tepat, efektif dan efisien untuk menghindari dampak yang ditimbulkannya.
  • Kepala Sekolah Sebagai Entrepreneur

Sebagai administrator kepala sekolah harus menjadi wirausaha atau entrepreneur sejati. Istilah wirausaha ini merujuk pada usaha dan sikap mental, tidak selalu dalam tafsir komersial. Untuk menjadi seorang entrepreneur, administrator sekolah harus percaya diri atau memiliki kepercayaan, ketidak tergantungan, kepribadian mantap dan optimism, berorientasi pada tugas dan hasil dan haus akan prestasi, berorientasi pada laba atau hasil, bekerja keras, tekun, tabah, energik, penuh inisiatif, berani mengambil resiko sesuai dengan peluang yang ada, suka pada tantangan, fleksibel, serta berpandangan terhadap masa depan. Kepala Sekolah sebagai sosok wirausahawan setidaknya mampu memberdayakan unit produksi sekolah sebagai berikut :

  1. Kepala Sekolah dapat mnganalisis peluang bisnis yang berkembang dilingkungan sekolah yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat,
  2. Kepala Sekolah mampu mempromosikan sekolah melalui kegiatan promosi dengan ikut berpartisipasi pada event-event yang digelar oleh pemerintah maupun kalangan bisnis,
  3. Kepala Sekolah mampu melakukan terobosan-terobosan baru yang diiringi oleh kemampuan dan percaya diri yang tinggi,
  4. Kepala Sekolah mampu mandiri dalam menuju kemandirian sekolah, langkah awal dari usaha ini adalah dengan memberdayakan unit produksi. Disamping itu dalam rangka peningkatan mutu pendidikan di Sekolah Menengah Kejuruan, Kepala Sekolah selaku manajer pendidikan harus dapat meningkatkan mutu pendidikan di sekolah yang dipimpin tanpa mengabaikan kebijakan dalam pendidikan seperti konsep : Manajemen Berbasis Sekolah, Pendidikan Berbasis Masyarakat, Pelaksanaan Kurikulum.
  1. B.     KEPALA SEKOLAH SEBAGAI PEJABAT FORMAL

Meski sebagai tugas tambahan, jabatan kepala sekolah adalah jabatan pemimpin dengan segala keformalannya. Setiap guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah dilakukan dengan prosedur serta persyaratan tertentu seperti latar belakang pendidikan, pengalaman, usia, pangkat dan integritasnya. Kepala sekolah pada hakikatnya adalah pejabat formal karena pengangkatannya melaui suatu proses dan prosedur yang didasarkan atas peraturan yang berlaku. Secara system jabatan kepala sekolah sebagai pejabat formal dapat diuraikan melalui berbagai pendekatan yakni pengangkatan, pembinaan, tanggung jawab. Di Indonesia prosedur dan peraturan yang berkaitan dengan pengangkatan guru menjadi kepala sekolah khususnya sekolah negeri, ditetapkan oleh kementrian pendidikan, meskipun dalam hal-hal tertentu sering tidak diikuti secara taat asas di tingkat kabupaten/kota. Adapun persyaratan administrative calon kepala sekolah meliputi:

  1. Usia Maksimal
  2. Pangkat
  3. Masa kerja
  4. Pengalaman
  5. Berkedudukan sebagai tenaga fungsional guru

Sedangkan persyarakan akademik meliputi, latar belakan pendidikan formal dan pelatihan terakhir yang diikuti oleh calon. Untuk persyaratan pribadi yaitu bebas dari perbuatan tercela dan loyal kepada Pancasila dan pemerintah.

Selama menduduki jabatan, kepala sekolah berhak atas:

  1. Gaji serta penghasilan dan pendapatan lain sesuai dengan ketentuan yang berlaku
  2. Akses kedudukan dalam jenjang kepangkatan tertentu
  3. Hak kenaikan gaji atau kenaikan pangkat
  4. Kesempatan menduduki jabatan yang lebih tinggi
  5. Memperoleh kesempatan untuk mengembangkan diri
  6. Penghargaan atau fasilitas
  7. Dapat diberi teguran oleh atasannya karena sikap, perbuatan, serta perilakunya yang dirasakan dapat menganggu tugas dan tanggung jawab sebagai kepala sekolah
  8. Dapat dimutasikan atau diberhentikan dari jabatan kepala sekolah karena hal-hal tertentu

Kepala sekolah pun mempunyai tugas dan tanggung jawab kepada atasan, yaitu:

  1. Loyal dan melaksanakan apa yang digariskan oleh atasan
  2. Berkonsultasi atau memberikan laporan mengenai pelaksanaan tugas yang menjadi tanggung jawabnya
  3. Selalu memelihara hubungan yang bersifat hirarki anata kepala sekolah dan atasan.

Selain tugas dan tanggung jawab diatas, kepala sekolah juga harus memerhatikan mutu, khususnya yang berkaitan dengan:

  1. Nilai-nilai dan misi sekolah
  2. Tata laksana dan keadministrasian sekolah
  3. Kurikulum, pengajaran, penilaian dan evaluasi
  4. Sumber daya
  5. Layanan pendukung pembelajaran
  6. Komunikasi dan jalinan hubungan dengan pemangku kepentingan
  7. Kegiatan kemasyarakatan
  8. Peningkatan mutu secara berkelanjutan

Termasuk didalam ini, kepala sekolah harus mampu menggaramsi mutu yang berkaitan dengan visi sekolah, budaya sekolah, administrasi sekolah, komunikasi dan kolaborasi dengan masyarakat, sikap keteladan, kejujuran, keadilan, etika profesi dan lingkungan politik, social, hokum, ekonomi, budaya, serta program istruksional dan implementasi kebijakan.

Tidak hanya kepada atasan, kepala sekolah juga memiliki tanggung jawab kepada sesame kepala  sekolah atau instansi yang terkait. Adapun tanggung jawab itu antara lain:

  1. Wajib memberikan hubungan kerjasama yang baik dengan kepala sekolah yang lain
  2. Wajib memelihara hubungan kerja sama sebaik-baiknya dengan lingkungan baik instansi terkait, tokoh-tokoh masyarakat dan BP3

Sedangkan terhadap bawahannya kepala sekolah berkewajiban membina hubungan yang sebaik-baiknya dengan guru, staf dan siswa, sebab esensin kepemimpinan adalah kepengikutan orang lain.

Peranan kepala sekolah sebagai pejabat formal secara singkat dapat disimpulkan bahwa kepala sekolah diangkat dengan surat keputusan oleh atasan yang mempunyai kewenangan dalam pengangkatan sesuia dengan prosedur dan ketentuan yang berlaku, memiliki tugas dan tanggung jawab yang jelas serta hak-hak dan sanksi yang perlu dilaksanakan, secara hirarki memiliki atasan langsung yang lebih tinggi, memiliki bawahan dan mempunyai hak kenaikan jabatan.

  1. C.    KRITERIA KEPALA SEKOLAH

Guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah harus memenuhi criteria khusus. Dengan kata lain kepala sekolah merupakan guru yang mendapat tugas tambahan sebagai “kepala sekolah”. Kriteria tersebut berkaitan dengan kualifikasi, kompetensi, kepangkatan, masa kerja, dll. Di dalam PP No. 19 Tahun 2005 disebutkan syarat-syarat untuk menjadi kepala sekolah seperti berikut:

  1. Kriteria untuk menjadi kepala TK/RA meliputi:
    1. Berstatus sebagai guru TK/RA
    2. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
    3. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 3 tahun di TK/RA
    4. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan
  2. Kriteria untuk menjadi kepala sekolah SD/MI meliputi:
    1. Berstatus sebagai guru SD/MI
    2. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
    3. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun di SD/MI
    4. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan
  3. Kriteria untuk menjadi kepala sekolah SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK meliputi:
    1. Berstatus sebagai guru SMP/MTs/SMA/MA/SMK/MAK
    2. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
    3. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun di satuan pendidikan khusus
    4. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan
  4. Kriteria untuk menjadi kepala sekolah SDLB/SMPLB/SMALB meliputi:
    1. Berstatus sebagai guru pada satuan pendidikan khusus
    2. Memiliki kualifikasi akademik dan kompetensi sebagai agen pembelajaran sesuai ketentuan perundang-undangan yang berlaku
    3. Memiliki pengalaman mengajar sekurang-kurangnya 5 tahun di satuan pendidikan khusus
    4. Memiliki kemampuan kepemimpinan dan kewirausahaan di bidang pendidikan
Tinggalkan komentar »

Keprofesian Bidang Keadministrasian Pendidikan

  1. Esensi Adminstrai Pendidikan

Guru besar administrasi pada Universitas Chicago pernah menulis bahwa di dunia ini tidak ada yang lebih penting daripada adminstrasi atau there is no the most important in the word than administration.tulisan ini mencerminkan kuatnya tuntutan akan sistem administrasi yang dikelola secara profesional oleh orang-orang yang profesional pula. Orng-orang yang profesional ini akan sangat mendukung jalannya organisasi pendidikan. Tidak ada institusi mana pun yang akan mampu tampil prima, kecuali memiliki sistem administrasi yang baik. Ini berarti bahwa tenaga yang melaksanakan tugas-tugas keadministrasian harus menjalani profesionalisasi secara terus menerus.

Jadi, adminstrasi atau tatalaksana itu penting. Karena ketika semua berjalan lancar itu berarti adminstrasinya berjalan dengan baik. Begitu juga sebaknya.

Bagi Castetter (1992), adminstrasi adalah suatu proses sosial yang dilaksanakan pada wahana tertentu dalam kaitannya dengan latar sistem sosial. Sedangkan menurut Engkoswara (2005) berbendapat bahwa administrasi pendidikan pada prinsipnya merupakan suatu bentuk penerapan adminstrasi dalam mengelola, mengatur dan mengalokasikan sumber daya yang terdapat dalam dunia pendidikan.

Jadi, administrasi pendidikan adalah proses kerjasama antar dua orang atau lebih dengan menggunakan sumber daya kependidikan yang tersedia dan yang dapoat diakses untuk mencapai tujuan pendidikan secara berdayaguna dan berhasil guna.

 

2. Tugas Administrasi Pendidikan

Departemen Pendidikan Nasional (1997), sekarang berubah nama menjadi Kementerian Pendidikan Nasional (Kemendiknas) mengemukakan enam bidang tugas administrasi pendidikan. Keenam bidang tugas dimaksud disajikan berikut ini:

  1. Bidang akademik, mencakup kegiatan:
  • Menyusun program tahunan dan semester,
  • Mengatur jadwal pelajaran,
  • Mengatur pelaksanaan model satuan pembelajaran,
  • Menentukan norma kenaikan kelas,
  • Menentukan norma penilaian,
  • Mengatur pelaksanaan evaluasi belajar,
  • Meningkatkan perbaikan mengajar,
  • Mengatur kegiatan kelas apabila guru tidak hadir, dan
  • Mengatur disiplin dan tata tertib kelas.
  1. Bidang kesiswaan, mencakup kegiatan:
  • Mengatur pelaksanaan penerimaan siswa baru berdasarkan peraturan penerimaan siswa baru,
  • Mengelola layanan bimbingan dan konseling,
  • Menyatat kehadiran dan ketidakhadiran siswa, dan
  • Mengatur dan mengelola kegiatan ekstrakurikuler.
  1. Bidang personalia, mencakup kegiatan:
  • Mengatur pembagian tugas guru,
  • Mengajukan kenaikan pangkat, gaji, dan mutasi guru,
  • Mengatur program kesejahteraan guru,
  • Mencatat kehadiran dan ketidakhadiran guru, dan
  • Mencatat masalah dan keluhan-keluhan guru.
  1. Bidang keuangan, mencakup kegiatan:
  • Menyiapkan rencana anggaran dan belanja sekolah,
  • Mencari sumber dana untuk kegiatan sekolah,
  • Mengalokasikan dan untuk kegiatan sekolah, dan
  • Mempertanggungjawabkan keuangan sesuai dengan peraturan yang berlaku.
  1. Bidang sarana dan prasarana, mencakup kegiatan:
  • Penyediaan dan seleksi buku pegangan guru,
  • Layanan perpustakaan dan laboratorium,
  • Penggunaan alat peraga,
  • Kebersihan dan keindahan lingkungan sekolah,
  • Keindahan dan kebersihan kelas, dan
  • Peerbaikan kelengkapan kelas.
  1. Bidang hubungan masyarakat, mencakup kegiatan:
  • Kerjasama sekolah dengan orangtua siswa,
  • Kerjasama sekolah dengan komite sekolah,
  • Kerjasama sekolah dengan lembaga-lembaga terkait, dan
  • Kerjasama sekolah dengan masyarakat sekitar.
Tinggalkan komentar »

Kompetensi Pengawas Sekolah

Kompetensi terdiri dari tiga katagori, yaitu kompetensi utama atau kompetensi inti, kompetensi penunjang atau pendukung, dan kompetensi lain yang melengkapi dua kompetensi tersebut, seperti kompetensi sosial, daya adaptabilitas, dan visi ke depan.

Secara akademik, standar kompetensi pengawas sekolah dikelompokkan ke dalam tiga komponen, yaitu :

1)      Komponen kompetensi profesional

  1. Subkomponen kompetensi pengawasan sekolah
  2. Kompetensi wawasan kependidikan
  3. Kompetensi akademik / vokasional
  4. Kompetensi pengembangan profesional

2)      Komponen kompetensi personal

3)      Komponen kompetensi sosial

Subkompetensi dan indikator :

1)      Menyusun program tahunan pengawas sekolah

2)      Menyusun program semester pengawasan sekolah

3)      Menyusun soal / instrumen layanan bimbingan dan konseling (BK)

4)      Menilai, mengolah, dan menganalisis data hasil belajar / bimbingan siswa dan kemampuan guru

5)      Mengumpulkan dan mengolah data sumber daya pendidikan, proses pembelajaran atau bimbingan dan konseling

6)      Melaksanakan analisis sederhana terhadap hasil belajar / bimbingan siswa

7)      Melaksanakan analisis komprehensif terhadap hasil belajar / bimbingan siswa

8)      Memberikan arahan dan bimbingan kepada guru tentang pelaksanaan proses belajar pengajar / bimbingan siswa

9)      Memberikan contoh pelaksanaan tugas guru dalam melaksanakan proses belajar pengajar / bimbingan siswa

10)  Memberikan saran untuk peningkatan kemampuan profesional guru kepada pimpinan instansi terkait

11)  Membina pelaksanaan pemeliharaan lingkungan sekolah

12)  Menyusun laporan hasil pengawasan sekolah per sekolah

13)  Mengevaluasi hasil pengawasan seluruh sekolah yang menjadi tanggung jawabnya

14)  Membina pelaksanaan pengelolaan sekolah

15)  Memantau dan membimbing pelaksanaan penerimaan siswa baru

16)  Memantau dan membimbing pelaksanaan ujian akhir

17)  Memberikan bahan penilaian dalam rangka akreditasi sekolah

18)  Mengevaluasi hasil pengawasan seluruh mata pelajaran / bimbingan siswa dari seluruh sekolah

19)  Menguasai landasan kependidikan dan proses pembelajaran

20)  Menguasai kebijakan pendidikan dan perundang – undangan pendidikan

21)  Menguasai pengelolaan sekolah dan pengembangan sekolah

22)  Menerapkan sistem evaluasi pendidikan

23)  Menerapkan metode supervisi pendidikan dalam pengawasan sekolah

24)  Menerapkan pemanfaatan IPTEK dan teknologi informasi

25)  Melakukan aktifitas ilmiah dan penelitian

26)  Menciptakan pedoman pelaksanaan pengawasan sekolah

27)  Menilai dan membina guru pembimbing dalam pelaksanaan tugasnya

28)  Kompetensi kepribadian seutuhnya

29)  Etos kerja yang tinggi

30)  Kemauan menerima pembaruan

Tinggalkan komentar »

Kompetensi Tenaga Adminsitrasi Sekolah (TAS)

Sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Republik Indonesia Nomor 24 Tahun 2008 tentang Standar Staf Administrasi Sekolah, kompetensi yang harus dipenuhi oleh staf tata usaha atau administrasi sekolah disajikan berikut ini.

  1. Kompetensi kepribadian meliputi memiliki imtegritas dan akhlak mulia etos kerja, pengendalian diri, percaya diri, fleksibilitas, ketelitian, kedisiplinan, kreatif dan inovasi, tanggung jawab.
  2. Kompetensi sosial meliputi kemampuan bekerja dalam tim, pelayanan prima, kesadaran  berorganisasi, berkomunikasi efektif dan membangun hubungan kerja.
  3. Kompetensi teknik meliputi kemampuan melaksanakan administrasi kepegawaian, keuangan, sarana prasarana, hubungan sekolah dengan masyarakat, persuratan, dan pengarsipan, administrasi kesiswaan, administrasi kurikulum, sdministrasi layanan khusus dan penerapan teknologi informasi dan komunikasi.
  4. Kompetensi manajerial (khusus bagi kepala staf tata laksana sekolah) meliputi kemampuan mendukung pengelola standar nasional pendidikan, menyusun program keja dan lapiran kerja, mengorganisasikan staf, mengembangkan staf,mengambil keputusan, menciptakan iklim kerja yang kondusif, mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya, membina staf, mengelola konflik, dan menyusun laporan.
Tinggalkan komentar »

Standar Kompetensi Kepala Sekolah

STANDAR KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH DASAR (SD)

  1. 1.      Komponen : Kompetensi Profesional

 

No.

Kompetensi

Sub kompetensi

1. Menyususn Perencanaan Sekolah -   Menganalisis komponen-komponen pengembangan sekolah

-   Mengembangkan visi dan misi sekolah

-   Mengembangkan tujuan dan sasaran pengembangan sekolah

-   Merumuskan rencana strategis sekolah

-   Merumuskan rencana tahunan sekolah

2. Mengelola Kelembagaan Sekolah -   Mengembangkan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan program

-   Menentukan personalia yang berkualitas

-   Mengatur sekolah yang berkaitan dengan kualifikasi, spesifikasi, serta pedoman prosedur kerja

3. Menerapkan Kepemimpinan dalam Pekerjaan -   Mengembangkankebijaksanaan operasional sekolah

-   Memberikan pengarahan untuk penugasan

-   Menerapkan komunikasi dan kerjasama dalam pekerjaan

-   Memberikan motivasi kepada staf dan karyawan

-   Memimpin rapat

-   Melakukan pengambilan keputusan dengan tepat

4. Mengelola Tenaga Kependidikan -    Merencanakan dan menepakan guru dan tenaga kependidikan

-    Membina guru dan tenaga kependidikan

5. Mengelola Sarana dan Prasarana -    Menyusun kebutuhan fasilitas (bangunan, peralatan, perabot, lahan, infra struktur) sekolah

-    Melaksanakan pengadaan fasilitas

-    Melaksanakan pemeliharaan fasilitas

-    Melaksanakan inventaris fasilitas

-    Melaksanakan penghapusan inventaris

-    Mengelola perpustakaan

6. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat -    Merencanakan kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

-    Membina kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

7. Mengelola Kesiswaan -    Melaksanakan penerimaan siswa baru

-    Mengembangkan potensi siswa sesuai minat, bakat, kreativitas dan kemampuan

-    Menerapkan sistem bimingan dan konseling

-    Memelihara disiplin siswa

-    Menerapkan sistem pelaporan perkembangan siswa

8. Mengelola Pengembangan Kurikulum dan Kegiatan Belajar Mengajar -    Mengembangkan kurikulum

-    Mengelola kegiatan belajar mengajar

9. Mengelola Ketatausahaan dan Keuangan Sekolah -    Mengelola ketatausahaan sekolah

-    Mengelola keuangan sekolah

10. Menerapkan prinsip-prinsip Kewirausahaan -    Bertindak kreatif dan inovatif

-    Memberdayakan potensi sekolah

-    Menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah

11. Menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif -    Menata lingkungan fisik sekolah (7K)

-    Membentuk suasana dan iklim kerja

-    Menumbuhkan budaya kerja

12. Melakukan Supervisi -    Merencanakan supervise

-    Melaksanakan supervise

-    Menindaklanjuti hasil supervisi

13. Melakukan evaluasi dan pelaporan -    Melakukan evaluasi kegiatan/program

-    Melakukan pelaporan

 

 

  1. 2.      Komponen : Kompetensi Wawasan Kependidikan dan Manajemen

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Menguasai Landasan Pendidikan -   Memahami hakekat pendidikan

-   Memahami pengembangan kurikulum sekolah

-   Memahami tingkat perkembangan siswa

-   Memahami macam-macam pendekatan pembelajaran

2. Menguasai Kebijakan Pendidikan -   Memahami Undang-Undang sistem pendidikan nasional

-   Memahami program pembangunan pendidikan dan rencana strategis di bidang pendidikan

-   Memahami kebijakan pendidikan

3. Menguasai konsep kepemimpinan dan manajemen pendidikan -   Memahami konsep kepemimpinan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep manajemen pendidikan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep dan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

-   Memahami konsep dan penerapan manajemen mutu sekolah

 

  1. 3.      Kompetensi Kepribadian
No. Kompetensi Sub Kompetensi
1. Kepribadian -   Bertaqwa kepada Tuhan Ynag Maha Esa

-   Berakhlak mulia

-   Memiliki etos kerja yang tinggi

-   Bersikap terbuka

-   Berjiwa pemimpin

-   Mampu mengendalikan diri

-   Mampu mengembangkan diri

-   Memiliki integritas kepribadian

 

  1. 4.      Kompetensi Sosial

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Sosial -   Mampu bekerjasama dengan orang lain

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kelembagan/sekolah

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan

 

STANDAR KOMPETENSI

KEPALA SEKOLAH MENEGAH PERTAMA (SMP)

 

  1. 1.      Komponen : Kompetensi Profesional

 

No.

Kompetensi

Sub kompetensi

1. Menyususn Perencanaan Sekolah -   Menganalisis komponen-komponen pengembangan sekolah

-   Mengembangkan visi dan misi sekolah

-   Mengembangkan tujuan dan sasaran pengembangan sekolah

-   Merumuskan rencana strategis sekolah

-   Merumuskan rencana tahunan sekolah

2. Mengelola Kelembagaan Sekolah -   Mengembangkan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan program

-   Menentukan personalia yang berkualitas

-   Mengatur sekolah yang berkaitan dengan kualifikasi, spesifikasi, serta pedoman prosedur kerja

3. Menerapkan Kepemimpinan dalam Pekerjaan -   Mengembangkankebijaksanaan operasional sekolah

-   Memberikan pengarahan untuk penugasan

-   Menerapkan komunikasi dan kerjasama dalam pekerjaan

-   Memberikan motivasi kepada staf dan karyawan

-   Memimpin rapat

-   Melakukan pengambilan keputusan dengan tepat

4. Mengelola Tenaga Kependidikan -    Merencanakan dan menepakan guru dan tenaga kependidikan

-    Membina guru dan tenaga kependidikan

5. Mengelola Sarana dan Prasarana -    Menyusun kebutuhan fasilitas (bangunan, peralatan, perabot, lahan, infra struktur) sekolah

-    Melaksanakan pengadaan fasilitas

-    Melaksanakan pemeliharaan fasilitas

-    Melaksanakan inventaris fasilitas

-    Melaksanakan penghapusan inventaris

-    Mengelola perpustakaan

6. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat -    Merencanakan kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

-    Membina kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

7. Mengelola Sistem Informasi Sekolah -    Mengembangkan prosedur dan mekanisme layanan sistem informasi

-    Mengembangkan data base sekolah

-    Menggunakan/mengelola hasil data base untuk merencanakan program pengembangan sekolah

8. Mengelola Kesiswaan -    Melaksanakan penerimaan siswa baru

-    Mengembangkan potensi siswa sesuai minat, bakat, kreativitas dan kemampuan

-    Menerapkan sistem bimbingan dan konseling

-    Memelihara disiplin siswa

-    Menerapkan sistem pelaporan perkembangan siswa

9. Mengelola Pengembangan Kurikulum dan Kegiatan Belajar Mengajar -    Mengembangkan kurikulum

-    Mengelola kegiatan belajar mengajar

10. Mengelola Ketatausahaan dan Keuangan Sekolah -    Mengelola ketatausahaan sekolah

-    Mengelola keuangan sekolah

11. Menerapkan prinsip-prinsip Kewirausahaan -    Bertindak kreatif dan inovatif

-    Memberdayakan potensi sekolah

-    Menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah

12. Menerapkan pemanfaatan kemajuan IPTEK dalam pendidikan -    Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam manajemen sekolah

-    Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam alat pembelajaran

13. Menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif -    Menata lingkungan fisik sekolah (7K)

-    Membentuk suasana dan iklim kerja

-    Menumbuhkan budaya kerja

14. Melakukan Supervisi -    Merencanakan supervise

-    Melaksanakan supervise

-    Menindaklanjuti hasil supervisi

15. Melakukan evaluasi dan pelaporan -    Melakukan evaluasi kegiatan/program

-    Melakukan pelaporan

 

 

  1. 2.      Komponen : Kompetensi Wawasan Kependidikan dan Manajemen

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Menguasai Landasan Pendidikan -   Memahami hakekat pendidikan

-   Memahami pengembangan kurikulum sekolah

-   Memahami tingkat perkembangan siswa

-   Memahami macam-macam pendekatan pembelajaran

2. Menguasai Kebijakan Pendidikan -   Memahami Undang-undang sistem pendidikan nasional

-   Memahami program pembangunan pendidikan dan rencana strategis di bidang pendidikan

-   Memahami kebijakan pendidikan

3. Menguasai konsep kepemimpinan dan manajemen pendidikan -   Memahami konsep kepemimpinan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep manajemen pendidikan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep dan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

-   Memahami konsep dan penerapan manajemen mutu sekolah

 

  1. 3.      Kompetensi Kepribadian
No. Kompetensi Sub Kompetensi
1. Kepribadian -   Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

-   Berakhlak mulia

-   Memiliki etos kerja yang tinggi

-   Bersikap terbuka

-   Berjiwa pemimpin

-   Mampu mengendalikan diri

-   Mampu mengembangkan diri

-   Memiliki integritas kepribadian

 

  1. 4.      Kompetensi Sosial

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Sosial -   Mampu bekerjasama dengan orang lain

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kelembagan/sekolah

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan

 

 

STANDAR KOMPETENSI

KEPALA SEKOLAH MENENGAH ATAS (SMA)

 

  1. 1.      Komponen : Kompetensi Profesional

 

No.

Kompetensi

Sub kompetensi

1. Menyususn Perencanaan Sekolah -   Menganalisis komponen-komponen pengembangan sekolah

-   Mengembangkan visi dan misi sekolah

-   Mengembangkan tujuan dan sasaran pengembangan sekolah

-   Merumuskan rencana strategis sekolah

-   Merumuskan rencana tahunan sekolah

2. Mengelola Kelembagaan Sekolah -   Mengembangkan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan program

-   Menentukan personalia yang berkualitas

-   Mengatur sekolah yang berkaitan dengan kualifikasi, spesifikasi, serta pedoman prosedur kerja

3. Menerapkan Kepemimpinan dalam Pekerjaan -   Mengembangkankebijaksanaan operasional sekolah

-   Memberikan pengarahan untuk penugasan

-   Menerapkan komunikasi dan kerjasama dalam pekerjaan

-   Memberikan motivasi kepada staf dan karyawan

-   Memimpin rapat

-   Melakukan pengambilan keputusan dengan tepat

4. Mengelola Tenaga Kependidikan -    Merencanakan dan menepakan guru dan tenaga kependidikan

-    Membina guru dan tenaga kependidikan

5. Mengelola Sarana dan Prasarana -    Menyusun kebutuhan fasilitas (bangunan, peralatan, perabot, lahan, infra struktur) sekolah

-    Melaksanakan pengadaan fasilitas

-    Melaksanakan pemeliharaan fasilitas

-    Melaksanakan inventaris fasilitas

-    Melaksanakan penghapusan inventaris

-    Mengelola perpustakaan

-    Mengelola laboratorium

6. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat -    Merencanakan kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

-    Membina kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

7. Mengelola Sistem Informasi Sekolah -    Mengembangkan prosedur dan mekanisme layanan sistem informasi

-    Mengembangkan data base sekolah

-    Menggunakan/mengelola hasil data base untuk merencanakan program pengembangan sekolah

8. Mengelola Kesiswaan -    Melaksanakan penerimaan siswa baru

-    Mengembangkan potensi siswa sesuai minat, bakat, kreativitas dan kemampuan

-    Menerapkan sistem bimbingan dan konseling

-    Memelihara disiplin siswa

-    Menerapkan sistem pelaporan perkembangan siswa

9. Mengelola Pengembangan Kurikulum dan Kegiatan Belajar Mengajar -    Mengembangkan kurikulum

-    Mengelola kegiatan belajar mengajar

10. Mengelola Ketatausahaan dan Keuangan Sekolah -    Mengelola ketatausahaan sekolah

-    Mengelola keuangan sekolah

11. Menerapkan prinsip-prinsip Kewirausahaan -    Bertindak kreatif dan inovatif

-    Memberdayakan potensi sekolah

-    Menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah

12. Menerapkan pemanfaatan kemajuan IPTEK dalam pendidikan -    Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam manajemen sekolah

-    Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam alat pembelajaran

13. Menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif -    Menata lingkungan fisik sekolah (7K)

-    Membentuk suasana dan iklim kerja

-    Menumbuhkan budaya kerja

14. Melakukan Supervisi -    Merencanakan supervise

-    Melaksanakan supervise

-    Menindaklanjuti hasil supervise

15. Melakukan evaluasi dan pelaporan -    Melakukan evaluasi kegiatan/program

-    Melakukan pelaporan

 

 

  1. 2.      Komponen : Kompetensi Wawasan Kependidikan dan Manajemen

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Menguasai Landasan Pendidikan -   Memahami hakekat pendidikan

-   Memahami pengembangan kurikulum sekolah

-   Memahami tingkat perkembangan siswa

-   Memahami macam-macam pendekatan pembelajaran

2. Menguasai Kebijakan Pendidikan -   Memahami Undang-undang sistem pendidikan nasional

-   Memahami program pembangunan pendidikan dan rencana strategis di bidang pendidikan

-   Memahami kebijakan pendidikan

3. Menguasai konsep kepemimpinan dan manajemen pendidikan -   Memahami konsep kepemimpinan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep manajemen pendidikan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep dan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

-   Memahami konsep dan penerapan manajemen mutu sekolah

 

  1. 3.      Kompetensi Kepribadian
No. Kompetensi Sub Kompetensi
1. Kepribadian -   Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

-   Berakhlak mulia

-   Memiliki etos kerja yang tinggi

-   Bersikap terbuka

-   Berjiwa pemimpin

-   Mampu mengendalikan diri

-   Mampu mengembangkan diri

-   Memiliki integritas kepribadian

 

  1. 4.      Kompetensi Sosial

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Sosial -   Mampu bekerjasama dengan orang lain

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kelembagaan/sekolah

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan

 

STANDAR KOMPETENSI

KEPALA SEKOLAH MENENGAH KEJURUAN (SMK)

  1. 1.      Komponen : Kompetensi Profesional

 

No.

Kompetensi

Sub kompetensi

1. Menyususn Perencanaan Sekolah -   Menganalisis komponen-komponen pengembangan sekolah

-   Mengembangkan visi dan misi sekolah

-   Mengembangkan tujuan dan sasaran pengembangan sekolah

-   Merumuskan rencana strategis sekolah

-   Merumuskan rencana tahunan sekolah

2. Mengelola Kelembagaan Sekolah -   Mengembangkan struktur organisasi yang sesuai dengan kebutuhan program

-   Menentukan personalia yang berkualitas

-   Mengatur sekolah yang berkaitan dengan kualifikasi, spesifikasi, serta pedoman prosedur kerja

3. Menerapkan Kepemimpinan dalam Pekerjaan -   Mengembangkankebijaksanaan operasional sekolah

-   Memberikan pengarahan untuk penugasan

-   Menerapkan komunikasi dan kerjasama dalam pekerjaan

-   Memberikan motivasi kepada staf dan karyawan

-   Memimpin rapat

-   Melakukan pengambilan keputusan dengan tepat

4. Mengelola Tenaga Kependidikan -    Merencanakan dan menepakan guru dan tenaga kependidikan

-    Membina guru dan tenaga kependidikan

5. Mengelola Sarana dan Prasarana -    Menyusun kebutuhan fasilitas (bangunan, peralatan, perabot, lahan, infra struktur) sekolah

-    Melaksanakan pengadaan fasilitas

-    Melaksanakan pemeliharaan fasilitas

-    Melaksanakan inventaris fasilitas

-    Melaksanakan penghapusan inventaris

-    Mengelola perpustakaan

-    Mengelola laboratorium

6. Mengelola Hubungan Sekolah-Masyarakat -    Merencanakan kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

-    Membina kerjasama dengan lembaga pemerintah, swasta dan masyarakat

7. Mengelola Sistem Informasi Sekolah -    Mengembangkan prosedur dan mekanisme layanan sistem informasi

-    Mengembangkan data base sekolah

-    Menggunakan/mengelola hasil data base untuk merencanakan program pengembangan sekolah

8. Mengelola Kesiswaan -    Melaksanakan penerimaan siswa baru

-    Mengembangkan potensi siswa sesuai minat, bakat, kreativitas dan kemampuan

-    Menerapkan sistem bimbingan dan konseling

-    Memelihara disiplin siswa

-    Menerapkan sistem pelaporan perkembangan siswa

9. Mengelola kegiatan produksi/jasa -    Merencanakan kegiatan produksi/jasa

-    Membina kegiatan produksi/jasa

10. Mengelola Pengembangan Kurikulum dan Kegiatan Belajar Mengajar -    Mengembangkan kurikulum

-    Mengelola kegiatan belajar mengajar

11. Mengelola Ketatausahaan dan Keuangan Sekolah -    Mengelola ketatausahaan sekolah

-    Mengelola keuangan sekolah

12. Menerapkan prinsip-prinsip Kewirausahaan -    Bertindak kreatif dan inovatif

-    Memberdayakan potensi sekolah

-    Menumbuhkan jiwa kewirausahaan warga sekolah

13. Menerapkan pemanfaatan kemajuan IPTEK dalam pendidikan -    Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam manajemen sekolah

-    Pemanfaatan teknologi komunikasi dan informasi dalam alat pembelajaran

14. Menciptakan budaya dan iklim kerja yang kondusif -    Menata lingkungan fisik sekolah (7K)

-    Membentuk suasana dan iklim kerja

-    Menumbuhkan budaya kerja

15. Melakukan Supervisi -    Merencanakan supervise

-    Melaksanakan supervise

-    Menindaklanjuti hasil supervise

16. Melakukan evaluasi dan pelaporan -    Melakukan evaluasi kegiatan/program

-    Melakukan pelaporan

 

 

  1. 2.      Komponen : Kompetensi Wawasan Kependidikan dan Manajemen

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Menguasai Landasan Pendidikan -   Memahami hakekat pendidikan

-   Memahami pengembangan kurikulum sekolah

-   Memahami tingkat perkembangan siswa

-   Memahami macam-macam pendekatan pembelajaran

2. Menguasai Kebijakan Pendidikan -   Memahami Undang-undang sistem pendidikan nasional

-   Memahami program pembangunan pendidikan dan rencana strategis di bidang pendidikan

-   Memahami kebijakan pendidikan

3. Menguasai konsep kepemimpinan dan manajemen pendidikan -   Memahami konsep kepemimpinan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep manajemen pendidikan dalam tugas, peran dan fungsi kepala sekolah

-   Memahami konsep dan penerapan Manajemen Berbasis Sekolah (MBS)

-   Memahami konsep dan penerapan manajemen mutu sekolah

 

  1. 3.      Kompetensi Kepribadian
No. Kompetensi Sub Kompetensi
1. Kepribadian -   Bertaqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa

-   Berakhlak mulia

-   Memiliki etos kerja yang tinggi

-   Bersikap terbuka

-   Berjiwa pemimpin

-   Mampu mengendalikan diri

-   Mampu mengembangkan diri

-   Memiliki integritas kepribadian

 

  1. 4.      Kompetensi Sosial

No.

Kompetensi

Sub Kompetensi

1. Sosial -   Mampu bekerjasama dengan orang lain

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kelembagaan/sekolah

-   Berpartisipasi dalam kegiatan kemasyarakatan

 

Tinggalkan komentar »

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.