Profesi Kependidikan

Agen of Change

Model-model dan Teknik Komunikasi Supervisi Klinis

pada Juni 4, 2012

1. Model Pengembangan

Konsep dasar pada model ini adalah keyakinan bahwa individu tumbuh secara kontinyu ketika tindakannya telah benar, menjalankan secara baik, dan menjalani pertumbuhan secara berpola. Menurut Stoltenberg dan Delworth (1987) ada tiga level subyek yang disupervisi :

1. Tingkat Dasar

Seorang supervisor menemukan guru yang relative tergantung pada supervisornya, kemudian dia melakukan diagnosis untuk kemudian diberikan terapi.

2.  Tingkat Menengah

Sering munculnya tipikal yang resistensi, penghindaran, dan konflik, karena konseo diri yang disupervisi sangat mudah terganggu.

3.Tingkat Lanjut

Fungsi yang dijalakanoleh subjek yang disupervisi bersifat relatin independen, mereka berkonsultasi pada saar memelukan dan merasa bertanggungjawab atas keputusan yang benar atau salah.

 

2. Model terpadu

Model ini menekankan pada tiga area focus pengembangan keterampilan, yaitu proses, konseptualisasi, dan personalisasi. Sesekali supervisor bisa tampil langsung selayaknya guru yang memberi mata kuliah, pengajaran atau informasi kepada kliennya. Sesekali dia bertindak sebagai konselor ketika harus melakukan tindakan konseling atau kepenasehatan khusus atas jalin hubungan selayaknya sejawat, ko-terapis, atau memerankan diri sebagai konsultan.

 

3. Model orientasi spesifik

Model  ini mengadopsi beberapa model terapi, seperti yang pernah dikembangkan oleh Adlerian dengan pendekatan solusi terfokus atau pendekatan perilaku. Diyakini bahwa proses supervise yang terbaik didapatkan dari terapi yang baik pula. Menurut Danim dan Khairil (2010 : 185) model ini diaplikasikan melalui beberapa tahap :

  1. Tahap awal dimana ketika seorang supervisor bertatap muka dengan yang akan disupervisi. Mereka harus menunjukkan keahlian dan kelemahannya. Artinya, keduanya ini dapat saling mempengaruhi.
  2. Pada tahap ini mungkin diantara mereka akan muncul konflik, sikap bertahan, dan menghindar, atau bahkan menyerang. Pada tahap ini supervisor menunjukkan perannya sebagai “pengendali” dalam kerangka supervise.
  3. Pada tahap akhir supervisor lebih banyak diam dan mendorong subjek yang disupervisi untuk tumbuh mandiri dengan caranya sendiri.

Akhmad Sudrajat (2008) mengemukakan bahwa supervisi klinis dilakukan melalui tiga tahapan yaitu tahap pertemuan pendahuluan, tahap observasi kelas, dan tahap pertemuan balikan. Hal yang paling membedakan supervisi klinis adalah penekanannya pada interaksi langsung guru-supervisor dan pengembangan professional guru.

Tahap pertemuan pendahuluan dimaksudkan sebagai langkah inventarisir masalah yang dihadapi guru; tahap observasi kelas dimaksudkan sebagai tahap untuk melihat secara real pembelajaran yang terjadi di dalam kelas; sedangkan tahap pertemuan balikan merupakan tindak lanjut dari kegiatan yang kedua tadi.

  1.  Tahap pertemuan pendahuluan (tahap pertama); Pada tahap ini yang terpenting untuk diperhatikan, terutama oleh supervisor, adalah harus dapat menciptakan suasana yang akrab, terbuka dan penuh persahabatan. Jadi yang terjalin adalah hubungan kolegial dalam suasana kerjasama yang harmonis. Dalam tahap ini supervisor dan guru bersama-sama membicarakan rencana keterampilan yang akan diobservasi dan dicatat. Menurut Soetjipto dan Raflis Kosasi dalam Jayadi (2002:77), secara teknis diperlukan lima langkah dalam pelaksanaan pertemuan pendahuluan yang meliputi:
    1. Menciptakan suasana yang akrab antara supervisor dengan guru.
    2. Melakukan kajian ulang rencana pembelajaran (tujuan, bahan, kegiatan, dan evaluasinya) yang telah dibuat oleh guru.
    3. Mengidentifikasi komponen keterampilan (beserta indikatornya) yang akan diobservasi.
    4. Memilih atau mengembangkan instrument observasi yang akan digunakan.
    5. Mendiskusikan bersama untuk mendapatkan kesepakatan tentang instrument observasi yang dipilih atau dikembangkan
  2. Tahap observasi kelas (tahap kedua); pada tahap ini guru mengajar atau melakukan latihan mengenai tingkah laku mengajar yang telah dipilih dan disepakati bersama pada tahap pertemuan pendahuluan. Ketika guru praktik/berlatih, supervisor mengadakan observasi dengan menggunakan alat perekam yang juga telah disepakati bersama. Aspek-aspek yang diamati adalah segala hal yang telah disepakati yang tercantum dalam instrument yang juga telah disetujui bersama dalam pertemuan pendahuluan.

Fungsi utama observasi kelas adalah untuk menangkap apa yang terjadi selama proses pengajaran berlangsung secara lengkap agar supervisor dan guru dapat dengan tepat mengingat kembali proses pengajaran dengan tujuan agar analisis dapat dibuat secara objektif. Ide pokok dalam observasi ini adalah mencakup apa yang terjadi sehingga dengan catatan yang dibuat dengan cermat dan lengkap serta kemudian tersimpan dengan baik, dapat bermanfaat untuk kepentingan analisis dan komentar (Jayadi, 2002:77).

3.      Tahap pertemuan balikan (tahap ketiga); Tahap ini merupakan diskusi umpan balik antara supervisor dan guru berkaitan dengan kegaiatan yang baru saja diselesaikan yaitu, guru baru saja selesai melakukan latihan suatu keterampilan, dan supervisor baru saja selesai mengamati guru melakukan latihan. Yang menjadi acuan dalam pertemuan balikan ini adalah kesepakatan yang dibuat dalam pertemuan pendahuluan, dan pada akhir diskusi balikan ini guru diharapkan dapat mengetahui dan menyadari seberapa jauh tujuan yang telah disetujui bersama dapat tercapai (Jayadi, 2002:78-79).

Soetjipto dan Raflis Kosasi dalam Jayadi (2002:79-80) mengemukakan langkah-langkah pembicaraan hasil supervisi klinis sebagai berikut :

  1. Memberi penguatan dan menanyakan perasaan guru mengenai apa yang dialaminya dalam kegiatan mengajar secara umum. Hal ini untuk menciptakan suasana santai agar guru tidak merasa diadili
  2. Mereview tujuan pelajaran
  3. Mereviu target keterampilan serta perhatian utama guru dalam mengajar/latihan mengajar
  4. Menanyakan perasaan guru tentang jalannya pengajaran berdasarkan target dan perhatian utamanya
  5. Menunjukkan data hasil rekaman dan memberi kesempatan kepada guru menafsirkan data tersebut.
  6. Menganalisis dan menginterpretasikan data hasil rekaman secara bersama-sama
  7. Menanyakan kembali perasaan guru setelah mendiskusikan hasil analisis dan interpretasi rekaman data tersebut
  8. Menyimpulkan hasil dengan melihat atau membandingkan antara apa yang sebenarnya merupakan keinginan atau target guru dengan apa yang sebenarnya telah terjadi atau tercapai
  9. Menentukan bersama-sama dan mendorong guru untuk merencanakan hal-hal yang perlu dilatih atau diperhatikan pada kesempatan berikutnya.

 Teknik Komunikasi dalam Supervisi Klinis

Dalam melaksanakan tugas-tugas profesionalnya, supervisor pembelajaran berkomunikasi dengan guru yang disupervisi. Ahli komunikasi umumnya sependapat bahwa komunikasi dapat diartikan sebagai proses penyampaian informasi dari pengirim kepada penerima pesan, dimana pesan itu disampaikan melalui media atau tanda-tanda dengan menggunakan bahasa tertentu yang saling dimengerti untuk mencapai suatu tujuan. Komunikasi adalah segala penyampaian segala perasaan, sikap, kebijakan dan kehendak, baik secara langsung maupun tidak langsung. Berdasarkan dua definisi diatas, maka dalam proses komunikasi terlibat pelbagai unsur seperti, penyampaian informasi (sender atau informator), penerima informasi (receiver), isi informasi (message), media atau tanda-tanda yang digunakan (medium or symbols), dan bahasa yang saling dimengerti (mutual language system). Unsur lain dari komunikasi adalah gangguan (noise), dan respon (response). Dalam konteks komunikasi untuk supervisi klinis, kedudukan supervisor dan yang disupervisi sebagai pengirim dan penerima pesan itu saling berganti. Karena memang dalam supervisi pembelajaran klinis, dialog terbuka menjadi sangat penting.

Unsur-unsur tersebut tidak dapat terpisahkan satu sama lain. Didalam proses komunikasi antara supervisor dengan guru selalu melibatkan penyampai informasi (supervisor), penerima informasi dan sebaliknya, pesan yang diinformasikan (pesan-pesan perbaikan, ajakan dan sebagainya) media atau tanda-tanda yang digunakan, bahasa yang saling dimengerti, kemungkinan gangguan dan pada saatnya respon adalah keharusan. Jika unsur lain ada, akan tetapi penerima tidak memberikan respon, maka proses komunikasi antara supervisor dengan menjadi tidak berarti.

Ada tiga tinjauan untuk memahami konsep dasar komunikasi antara supervisor dengan guru yang disupervisi. Ketiga tinjauan tersebut dirumuskan berikut ini. Pertama, bahwa komunikasi itu dipandang sebagai proses penyampaian informasi. Keberhasilan proses komunikasi antara supervisor dengan guru terletak pada penguasaan materi atau fakta dan pengaturan cara-cara penyampaiannya. Guru sebagai penerima pesan dan supervisor sebagai pengirim atau sebaliknya tidak merupakan komponen yang menentukan keberhasilan komunikasi.

Kedua, komunikasi itu suatu proses penyampaian gagasan-gagasan dari supervisor kepada guru. Didalam konsep ini terkandung makna bahwa guru sebagai penerima pesan dianggap sebagai bagian dari proses komunikasi, namun penekanan terletak kepada supervisor atau message formulator.

Kelemahan komunikasi yang bersifat “speaker-centered phylosophy of communication”mini terletak pada beberapa hal. Pertama, penerima pesan dipandang sebagai objek yang pasif dan bukan sebagai kekuatan aktif dalam proses komunikai. Kedua, konsep ini tidak mengemukakan terjadinya proses pemahaman atau meaning yang tidak dapat dihindari dalam proses komunikasi. Ketiga, terlalu parochial atau kurang mengungkapkan masalah manusia yang suatu waktu berkomunikasi dengan dirinya sendiri.

Ketiga, komunikasi dipandang sebagai suatu proses menciptakan arti, ide, gagasan atau konsep. Pesan supervisor dapat diciptakan melalui orang, televisi, radio, memo, papan pengumuman, suran dan sebagainya. Konsep ini tidak sepenuhnya tepat, mengingat bahwa komunikasi itu bukan proses penyampaian arti atau gagasan dari seseorang kepada orang lain.

Apa yang disampaikan oleh penyampai pesan itu hanyalah simbol-simbol atau lambang-lambang. Arti dari suatu pesan tidak dapat dipindah-pindahkan atau disampaikan secara apa adanya. Pengertian atau pemaknaan atas pesan itu terjadi pada individu yang terlibat dalam proses komunikasi itu. pengertian atau pemahaamn atas pesan yang disampaikan oleh supervisor ditentukan oleh kemampuan guru sebagai penerima pesan itu. Dengan demikian, keberartian atas pesan  atau sejumlah pesan itu ditentukan oleh kemampuan guru sebagai penerima pesan itu sendiri. Tugas supervisor hanyalah menyampaikan ide atau informasi, beban pemahaman terhadap apa yang disampaikan ada pada guru yang disupervisi.

Pada tingkat praksis, perbuatan mencela, mengkritik, memberi saran atau usul kepada atasan yang lebih tinggi sangat jarang, sebagai hambatan psikologis itu. Dengan fenomena itu, mereka segan mengemukakan ketaksenangan terhadap pekerjaan atau sikap negatifnya terhadap tugas-tugas. Mereka bekerja dan berkomunikasi sangat hati-hati, sebab takut tergeser, tidak dipercaya, dan tidak membangun rasa saling memiliki. Hal ini terjadi sebagai akibat beberapa hal. Pertama, tidak ada keterbukaan antara kedua belah pihak, yaitu antara supervisor dengan guru binaanya. Kedua, kurang dukungan fakta-fakta. Ketiga, pola manajemen kepengawasan yang kaku, tidak memungkinkan komunikasi terjadi secara efektif.

Supervisor yang bijak akan membawa guru binaanya pada kondisi yang mereka inginkan, yaitu menciptakan iklim yang sehat dan produktivitas pembelajaran yang tinggi. Ketidakmampuan supervisor menimbulkan kepercayaan, kepatuhan, dan kesetiaan melalui komunikasi yang baik dengan guru akan membawa dampak gagalnya program supervisi. Komunikasi antar manusia dalam kaitannya dengan pekerjaan menduduki posisi sentral, lebih dari hanya sekedar berporos pada upaya mencapai tujuan organisasi. Munculnya permasalahan itu dapat saja disebabkan oleh perbedaan status secara posisional atau karena tidak ada jaringan komunikasi yang komunikatif.

Berhasil atau tidaknya komunikasi antara supervisor dan pengawas turut ditentukan oleh keinginan mendengar antarsesama. Mendengarkan yang dimaksudkan  disini adalah kemampuan menangkap pesan, bukan kepura-puraan. Pembicara yang tidak mau tau guru atau lawan bicara, tidak akan menjadi supervisor pembelajaran yang baik. Untuk itu, manusia organisasional harus memiliki sifat-sifat inovatif yang oleh Rogers dan Shoemaker (1981) digambarkan dengan ciri-ciri sperti berikut ini.

Pertama, memiliki empati yang lebih besar. Empati adalah kemampuan seseorang memproyeksikan diri kedalam peranan orang lain. Hal ini biasanya harus ditunjang oleh kemampuan berpikir abstrak, berdaya khayal dan mengambil peran orang lain agar dapat berkomunikasi lebih efektif dengan mereka. Kedua, kurang dogmatis. Dogmatis adalah suatu variabel yang menunjukkan sistem kepercayaan yang relatif tertutup yang pengaruhnya sangat kuat terhadap kepribadian seseorang. Ketiga, mempunyai kemampuan abstraksi yang lebih besar, karena ide baru itu biasanya pertama kali diperkenalkan dalam bentuk rangsangan yang abstrak. Keempat, mempunyai rasionalitas yang besar, karena itu merupakan cara yang paling efektif untuk menciptakan tujuan tertentu. Kelima, cenderung lebih tinggi intelegensinya. Keenam, memiliki sikap yang lebih berkenan terhadap perubahan.

Ketujuh, memiliki sikap yang mau mengambil resiko. Kedelapan, memiliki sikap yang berkenan terhadap pendidikan dan ilmu pengetahuan. Kesembilan, kurang percaya kepada nasib, artinya tidak menyerah begitu saja kepada nasib, statisme. Kesepuluh, memiliki motivasi tinggi meningkatkan taraf hidup yang lebih baik. Kesebelas, memiliki aspirasi tinggi terhadap pendidikan, pekerjaan dan sebagainya lebih tinggi

  • Komunikasi Klinis

Ada dua sikap supervisor pembelajaran yang mempengaruhi proses berkomunikasi, yaitu sikap yang menghambat dan sikap yang membantu. Dua sikap pengirim pesan yang menghambat dan membantu proses komunikasi menurut Jack R. Gibb (1970) dalam “Journal of Communication” seperti berikut ini.

 

Evaluasi – Deskripsi

Supervisor yang cenderung memberi penilaian terhadap guru binaannya akan menghadapi reaksi yang difensif dari penerima pesan itu. Sebaliknya supervisor yang memberi penjelasan secara deskriptif akan memperoleh respon positif dari guru binaannya. Karena itu, penyampaian pesan-pesan yang bersifat deskriptif akan lebih efektif dibandingkan dengan yang bersifat evaluasi.

 

Penguasaan – Permasalahan

Supervisor yang bersikap sebagai penguasa atau pimpinan yang otoriter, akan membuat guru binaanya menjadi imferior dan defensif. Supervisor yang berbicara bersifat ingin memecahkan pelbagai masalah akan disambut secara positif dan konstruktif oleh guru yang disupervisi. Manusia sesuai dengan hakekatnya, biasanya tidak suka terpojok atau tidak mau berperan selalu sebagai bawahan. Mereka lebih menerima atasan yang senantiasa memecahkan pelbagai problema yang mereka hadapi.

 

Manipulasi – Spontanitas

Supervisor selaku penyampai pesan yang bernada manipulatif atau bersikap “ ada udang dibalik batu” akan disambut dengan sikap negatif oleh guru dan tidak mungkin menciptakan suasana komunikatif antarsesama mereka. Jika komunikasi dilakukan oleh supervisor secara jujur, spontanitas dan sungguh-sungguh, akan disambut dengan sikap positif oleh guru. Proses komunikasi antara supervisor dengan guru binaannya akan berlangsung secara komunikatif.

Tidak memperhatikan – Memperhatikan

Sikap dingin seseorang supervisor atau penyampai informasi akan ditanggapi oleh guru sebagai penerima informasi secara tidak penuh dan dengan demikian komunikasi tidak akan berjalan secara efektif. Jika supervisor atau penyampai informasi penuh keseriusan, akan ditanggapi oleh guru sebagai penerima informasi secara penuh perhatian. Dengan demikian informasi yang disampaikan oleh supervisor kepada guru binaannya akan dapat diterima dengan baik.

 

Bersikap super – Menyamakan diri

Penyampai pesan atau supervisor yang berlagak angkuh atau supervisor tidak akan dapat menyampaikan informasi secara baik kepada guru sebagai penerima pesan, karena mereka akan mempunyai kesan bahwa supervisor itu hanya menampakkan egonya. Supervisor yang menghargai guru atau memposisikannya sama dengan dirinya, akan mampu menyampaikan informasi secara efektif.

 

Kaku – Luwes

Supervisor yang hanya berusaha menawarkan keputusan-keputusan sendiri dengan dalih mau dilihat bersikap demokratis akan membuat guru atau penerima informasi jadi negatif. Jika supervisor bersikap luwes, akan diterima secara luwes pula oleh guru. Dengan demikian komunikasi antarsesama mereka akan berjalan lebih lancar.

Ketidakmampuan supervisor pembelajaran akan menyebabakan dia maupun guru tidak memperoleh kepuasan akibat tidak adanya perasaan saling mempercayai satu sama lain. Faktor-faktor yang mempengaruhi komunikasi antara supervisor pembelajaran dan guru adalah

  1. Faktor psikologis, yaitu persepsi dan penafsiran guru yang dibina terhadap stimulus yang ada dari supervisor ditentukan oleh tingkatan emosi dan sifat pibadi seseorang supervisornya
  2. Faktor biofisikal, yaitu penglihatan, keseimbangan biokimiawi, dan lain-lain yang ada pada diri guru binaan supervisor
  3. Faktor psikofisikal, yaitu status fisik dan mental yang saling berkaitan, seperti penyalahgunaan obat dan kemampuan dalam mengekspresikan diri dan perubahan tingkat kewaspadaan seorang guru yang dibina.
  4. Faktor sosiokultural, yaitu hal-hal yang bersifat kultural, ras, klas sosial, nilai-nilai yang dianut serta kepercayaan yang dianut oleh guru binaan supervisor.

Komunikasi yang efektif terutama terletak pada kemampuan supervisor pembelajaran untuk “membaca” (mendengar, mengerti, dan memahami) guru secara individual, mampu menilai kondisi guru, dan mampu menyampaikan pesan kepadanya sesuai dengan lokasi, waktu dan maksud dari interaksi yang sedang berlangsung. Kemampuan melakukan komunikasi secara efektif bukan semata-mata merupakan ciri khas atau pembawaan seseorang supervisor pembelajaran, sebagian besar dari kemempuan tersebut merupakan perilaku yang dapat dipelajari

Ketrampilan komunikasi dapat dipelajari dengan lebih efisien bila seseorang telah mengetahui pengetahuan dasar komunikasi yang berkaitan sebelum melakukan praktik ketrampilan. Saat ini, seharusnya supervisor pembelajaran telah menyadari bahwa ketrampilan komunikasi pribadi merupakan unsur dasar dalam memeperbaikai kualitas wawancara klinis dalam supervisi pembelajaran. Kualitas komunikasi klinis ini diyakini berhubungan secara positif dengan efektiviitas menumbuhkembangkan kemampuan profesional guru.

Secara singkat dapat dikatakan bahwa komunikasi yang efektif akan membawa supervisor pembelajaran pada pembuatan diagnosa yang lebih tepat, investigasi dan terapi yang tepat dan meningkatkan derajat kepuasan serta pemenuhan kebutuhan dari guru. Dengan demikian komunikasi yang efektif diharapkan akan dapat mengurangi penyimpangan dalam komunikasi serta memberi keputusan bagi guru sebagai penerima jasa layanan supervisi pembelajaran. Komunikasi ini dapat dilakukan baik secara verbal maupun nonverbal.

 

Komunikasi Verbal

Komunikais verbal adalah penggunaan kata-kata dalam menyampaikan pikiran, perasaan, dan informasi. Kesalahan utama dalam penyampaian kata-kata adalah digunakannya istilah pendidikan dan pembelajaran yang hanya diketahui oleh supervisor dan tidak dimengerti sama sekali oleh guru binaannya. Penggunaan istilah oleh supervisor hanya boleh jika dia yakin bahwa guru benar-benar memahaminya.

Faktor lain yang mempengaruhi tingkat pemahaman guru adalah volume informasi yang disampaikan oleh supervisornya. Supervisor harus memberi kesempatan pada guru untuk mengingat pesan-pesan yang telah disampaikan.pada umumnya guru hanya dapat mengingat beberapa hal utama pada setiap kali pertemuan. Adalah hal yang sangat menguntungkan bila supervisor dapat menyediakan informasi tertulis mengenai cara menegakkan “diagnose” dan rekomendasi perbaikan bagi guru yang dibina.

 

Komunikasi Nonverbal

Komunikasi nonverbal adalah isyarat yang  berlangsung secara sadar atau tidak sadar berupa tingkah laku yang menyatakan pikiran, perasaan, atau petunjuk. Komunikasi nonverbal dapat berguna dalam:

  • Menunjukkan emosi
  • Menunjukkan sikap
  • Membentuk dan mempertahankan hubungan sosial dan
  • Mendukung komunikasi verbal

Komunikasi verbal dan nonverbal dapat membantu supervisor pembelajaran untuk menunjukkan perhatian dan kepedulain terhadap guru. Dengan menunjukkan perhatian, melakukan kontak mata, mendengarkan dan bertanya secara baik dan menunjukkan pengertian dan empati akan membuat guru merasa diperhatikan dan dianggap penting. Sikap nonverbal yang menunjukkan adanya perhatian dan kepedulian terhadap guru antara lain adalah nada bicara, sikap, perhatian, senyuman, mendengarkan dengan seksama, posisi duduk antara supervisor pembelajran dan guru pada ketinggian yang sama.

 

Keputusan Berbasis Konsultasi

  1. Hak guru untuk memperoleh informasi yang penting dari supervisor dan bernilai baik baginya
  2. Hak guru dalam membuat keputusan yang terbaik menurut pertimbangan nalar dan pengalamannya
  3. Keputusan berbasis informasi (informed decision) merupakan pernyataan mendasar dari hak guru untuk mewujudkan eksistensi diri
  4. Lima unsur dasar penting untuk mendukung pengambilan keputusan berbasis konsultasi:
  • Terjadinya pilihan layanan supervisi
  • Proses pengambilan keputusan secara sukarela
  • Guru memperoleh informasi yang benar
  • Terjaminnya interaksi yang baik antara supervisor pembelajaran dengan guru
  • Dukungan dalam membuat keputusan supervisis

 

Pendekatan GATHER

Pendekatan GATHER  sudah lama digunakan dalam konsultasi pelayanan keluarga berencana (KB) untuk membentuk klien memilih metode kontrasepsi yang paling baik dan sesuai. Pendekatan ini agaknya cocok dalam rangka pelaksanaan supervisi pembelajaran. GATHER merupakan singkatan dari:

  1. Greet (salam) – berikan salam dalam sikap bersahabat pada guru segera ketika berjumpa. Buatlah guru merasa nyaman dengan menanyakan hal-hal yang sederhana.
  2. Ask (tanya) – apa dan bagaimana seorang supervisor klinis dapat membantu guru. Bertanyalah mengenai masalah guru, gunakan nada suara yang mengisyaratkan keperdulian, perhatian, dan keakraban terhadap mereka.
  3. Tell (tanggapan) – berikan tanggapan dan respon terhadap kebutuhan guru
  4. Help (bantu) – bantulah guru dalam membuat keputusannya sendiri
  5. Explain (jelaskan) – apa yang benar-benar perlu dijelaskan
  6. Return (kembali) – ingatkan guru dengan memberikan pesan-pesan tertentu yang penting.

 

Pendekatan REDI

Pendekatan ini dikenal dengan 4 tahapan REDI yaitu:

Tahap 1: Rapport building (membina hubungan)

  • Menyambut kedatangan guru, misalnya ketika dia berinisiatif menemui supervisornya
  • Membuat pembicaraan awal yang menyenangkan
  • Memeperkenalkan topik bahasan
  • Menjanjikan kerahasiaan bersama

Tahap 2: Exploration (eksplorasi)

  • Mendapatkan informasi mengenai kebutuhan guru, resiko kehidupan guru sebagai penyandang profesi ketika berinteraksi dengan anak, kehidupan sosial, dan lingkungan
  • Menggali tingkat pemahaman guru dan berikan informasi yang diperlukan
  • Bantu guru dalam memahami kondisi kerja atau resiko kerja yang akan muncul

Tahap 3: Decision making (pengambilan keputusan)

  • Identifikasi keputusan yang diperlukan guru
  • Identifikasi pilihan-pilihan guru dalam mengambil keputusan
  • Berikan penjabaran dari keuntungan, kerugian, dan konsekuensi dari setiap pilihan
  • Bantu guru untuk mengambil keputusan yang realistik

Tahap 4: Implementing of decision (pelaksanaan keputusan)

  • Buatlah rencana nyata dan spesifik untuk menjalankan keputusan
  • Idenifikasi ketrampilan yang diperlukan guru dalam menjalankan keputusannya
  • Bantulah guru dalam memperoleh ketrampilan praktis yang diperlukan, jika dirasa perlu
  • Buatlah rencana tindak-lanjut.



Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: